ARSITEKTUR PERADABAN MANUSIA ITU ADALAH “GURU”

oleh -

ARSITEKTUR PERADABAN MANUSIA ITU ADALAH “GURU”

Sahabat guru. Semoga ilmunya senantiasa bermanfaat. Seringkali ketika menjumpai anak didik bermasalah, kita terasa enggan untuk disalahkan 100 % dengan argumen bahwa bagaimanapun orangtua (ayah dan ibu) juga mempunyai peranan dalam persoalan tersebut. Beribu alasan sebagai argumen sering terkemuka : – ayah ibunya terlalu sibuk – ayah ibunya kurang perhatian terhadap anaknya – ayah ibunya kurang kerjasama dengan sekolah – ayah ibunya terlalu pasrah apa kata sekolah – ayah ibunya begini… begitu… dan lain sebagainya selalu begitu…. dan seakan sebagai guru kita merasa pantas untuk menolak tanggung jawab apapun yang terjadi pada anak didik kita karena mereka mempunyai orang tua.. Kemudian bagi mereka yang tak punya orang tua ? lingkungan dan pergaulan… adalah jawaban yang sering terlontar. Baru-baru ini… sebuah SEKOLAH terpaksa harus mengeluarkan siswanya karena berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh para siswanya, dan karena menganggap setelah dikoordinasikan dengan pihak orangtua ternyata tetap tidak ada perubahan maka mereka terpaksa dikeluarkan dari sekolah.
Berhenti sampai disitukah…cukup dengan dikeluarkan dari sekolah… lepas sudah tanggung jawab kita sebagai guru ? Bukankah guru..itu – menjadikan anak yang tidak baik menjadi baik – menjadikan anak yang tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan – menjadikan anak yang tidak berkarakter menjadi berkarakter – menjadikan segala sikap negatif yang dimiliki siswa menjadi sikap positif.Jadi tak hanya sekedar datang kesekolah , masuk kelas lalu mengajar dan berikan tugas terus pulang !
Tugas-tugas mulia yang akan berujung pada berlimpahnya pahala, janji tak akan terputusnya pahala karena ilmu yang bermanfaat … sering harus terabaikan dengan alasan ( sekali lagi ) orang tua juga memegang peranan..! apakah, mereka yang sudah tidak mendapat perhatian dari orang tuanya juga harus menerima resiko tidak juga mendapat perhatian dari gurunya ? Apakah mereka yang sudah tidak diperdulikan lagi oleh orang tuanya juga harus menerima resiko tidak diperdulikan juga oleh gurunya ?
Apakah karena orang tua mereka tidak dapat bekerja sama dengan sekolah maka mereka juga yang menerima resikonya di tinggalkan oleh sekolah ? Apa yang akan terjadi kepada mereka ? bisakah mereka akan menjadi lebih baik ? Atau malah mereka akan menjadi lebih buruk ?
Haruskah mereka menerima resiko yang seharusnya bukan dikarenakan kesalahan mereka ?
Betul… orang tua harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya ! betul… orang tualah yang pertama harus disalahkan apabila terjadi apapun pada anak-anaknya.
Tapi tidakkah lebih mulia ketika sebagai guru, kita turut memberikan sebagian perhatian kepada mereka yang bermasalah sehingga akan muncul kebaikan pada mereka ? Tidakkah lebih terpuji ketika sebagai guru, kita turut memberikan rasa keperdulian kepada mereka yang bermasalah sehingga akan muncul kebesaran hati pada mereka ?
Tidakkah lebih indah ketika sebagai guru, kita juga menjalin kerjasama dengan mereka yang bermasalahan sehingga akan termunculkan pemecahan masalah atas masalah mereka ?
Terlalu sibukkah kita ? terlalu banyakkah tugas kita ? terlalu beratkah beban kita ? Bila jawaban kita memang ya… berarti kita tidak lebih baik dari orang tua mereka, bukankah kita sebagai guru adalah juga orang tua mereka.. yang akan sedih bila mereka bermasalah yang akan bangga bila mereka berhasil dan yakinlah…. janji Allah Subhana Wa Ta’ala.
Oleh karena itu pelihara pahala yang tak terputus bagi ilmu yang bermanfaat… Tidaklah hanya untuk ilmu pengetahuan yang telah menjadi kewajiban kita untuk bekal mereka melainkan juga keteladanan dan kepedulian kita sebagai guru sehingga mereka bisa menjadikan ilmunya bermanfaat kepada kebaikan bagi sesama pun…
Tidakkah doa anak sholeh itu selain tertujukan kepada kedua orang tuanya… percayalah pasti juga akan ditujukan kepada kita, guru mereka yang telah memberikan hati dengan sepenuhnya. Jadi… masihkan kita tetap serahkan tanggungjawab itu kepada hanya orang tua mereka … dengan menyia-nyiakan kesempatan yang sebenarnya sangat berharga melebihi kesempatan emas menjadi guru profesional yang bersertifikat.(Ari Yunanda)