Dhimam Abror Djuraid: ENAK JAMANKU ATAU ENAK DEMOKRASI?

oleh -

Kembali ke zaman Pak Harto tentu bukan pilihan. Gerakan people power juga bukan pilihan yang bijaksana. Sebaliknya, gaya gaspol dengan crack down dan crush down oleh pemerintah terhadap oposisi seperti sekarang harus direm.

Rezim Jokowi punya kekuasaan. Opisisi punya kekuatan. Show down, adu kuat, antara dua pihak hanya akan membawa kerugian jangka panjang.

Baca Juga:  Penyanyi Fryda Lucyana Saksikan Pemakaman Ayah Secara Virtual Covid19 ;Catatan  Ilham Bintang

Levinsky dan Ziblatt dalam buku viral “How Democracies Die” menyebutkan dua hal untuk menjaga spirit demokrasi, yaitu saling memberi toleransi (mutual toleration) dan menahan diri (forebearance).

Pemerintah dan oposisi harus sama-sama berkomitmen menjaga spirit demokrasi itu kalau tidak ingin mematikan demokrasi. Pemerintah dan oposisi harus saling bertoleransi dan saling menahan diri.

Baca Juga:  Polres Tanah Datar Tangkap Tiga Pengedar Shabu

People power sungguh ngeri. Balik ke zaman Soeharto sungguh tidak asyik. Kita tidak bakal bisa facebookan, twiteran, atau main instagram dengan asyik.

Demokrasi tetap paling asyik. Meskipun, kata Gus Dur mengutip Churchill, demokrasi adalah bentuk pemerintahan terburuk, tapi tetap terbaik dibanding lainnya.

“Piye, luwih enak demokrasi, to?” (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.