Dhimam Abror Djuraid: ENAK JAMANKU ATAU ENAK DEMOKRASI?

oleh -

ENAK JAMANKU ATAU ENAK DEMOKRASI?
Dhimam Abror Djuraid

Wajah Pak Harto dengan senyum lebar yang sumringah, rambut putih tersisir rapi ke belakang, berjaket kulit hitam mengangkat satu tangan sambil menyapa, “Piye kabare, enak jamanku, to…” (Bagaimana kabar, lebih enak zaman saya, kan..)

Di jalan-jalan raya sepanjang jalur pantura maupun jalur selatan poster itu menjadi salah satu yang paling populer dan paling sering dijumpai di bokong truk menjadi “bumper poster” atau poster bokong.

Poster bokong truk sudah menjadi tradisi umum dan pemandangan yang jamak di jalan raya. Banyak poster-poster lain yang jenaka dan menggelitik dengan gambar yang segar menghibur mata jalanan yang lelah.

Baca Juga:  Catatan Ilham Bintang; Pak Jokowi, Tolong Tertibkan Komunikasi Politik Istana 

Narasinya cerdas dan tak jarang bikin senyum dan kadang gelak tawa, “Pulang Malu, Tidak Pulang Rindu”. Lainnya berbunyi seperti rayuan Dylan, “Rinduku Seberat Muatanku”, atau yang sok cakep “Jangan Ngaku Cantik Kalau Belum Punya Pacar Sopir”.

Di antara puluhan poster itu tak pelak poster Pak Harto paling kerap curi perhatian. Entah siapa yang bikin. Yang jelas, selain versi poster bokong truk ada versi stiker motor dan ada juga edisi kaos oblong.

Baca Juga:  Cara tarik Saldo King Island yang tidak bisa diklik dan terkunci

Para pedagang kaos mendapat rezeki nomplok saat pemilu 2019 yang lalu. Gambar Pak Harto plus narasi “Enak jamanku, to..” menjadi semacam tagline resmi Partai Berkarya yang didirikan oleh Tommy Soeharto dan kakaknya Titik Soeharto.

No More Posts Available.

No more pages to load.