Dirjen Berulah Dana Hibah, Mas Menteri Kena Getah

oleh -
Dirjen Berulah Dana Hibah, Mas Menteri Kena Getah

Oleh:Rudi S Kamri

Kali ini Mas Menteri Nadiem harus bertanggungjawab atas ulah sang Dirjen Guru dan Tenaga Pendidikan (GTK) Iwan Syahril. Kisruh dana hibah dalam Program Organisasi Penggerak Kemendikbud yang menjadi polemik akhir-akhir ini memang membuat saya dan jutaan orang waras geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin uang negara dan uang rakyat bisa dipergunakan seenak sendiri tanpa prinsip kehati-hatian dan tanpa kepekaan kebangsaan.

Uang negara yang diperuntukkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar guru dan tenaga kependidikan seharusnya disalurkan kepada organisasi atau lembaga pendidikan yang kridibel dan punya rekam jejak kesejarahan yang mumpuni.

Pada saat dana ini disalurkan melalui Yayasan Tanoto dan Yayasan Sampoerna yang notabene merupakan bagian dari kelompok konglomerat, ini jelas merupakan blunder besar seorang Dirjen GTK yang tidak bisa kita diamkan.

Kita sebagai rakyat berhak marah dengan kesembronoan sang Dirjen Iwan Syahril. Apalagi berdasarkan penelusuran media ada aroma “conflict of interest” yang kental dari sang Dirjen. Ternyata sebelum menjadi Dirjen GTK, Iwan Syahril menjadi Dekan atau pengajar di Sampoerna University dan pernah menjadi bagian dari Tanoto Foundation. Dan konyolnya Iwan Syahril berapi-api membela diri merasa benar secara prosedur. Mungkin secara prosedur administrasi apa yang dilakukan Dirjen GTK sudah benar, tapi bukan itu intinya.

Permasalahan utamanya adalah sang Dirjen ini tidak bisa mengelak atas adanya konflik kepentingan dirinya dengan dua Yayasan milik konglomerat tersebut. Jadi semakin Iwan Syahril ngotot membela diri, semakin tampak betapa bodohnya dia karena tidak tahu diri.

Di sisi lain dua Yayasan milik konglomerat tersebut seharusnya malu menerima dana hibah Rp 20 Milyar per tahun dari negara.