Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Satu lagi Perupa Perempuan Indonesia yang mengikuti pameran IWA#4 (Indonesia Women Artist#4) di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta dari belasan Perupa Perempuan Indonesia yang turut serta sejak 10 April hingga 30 Juni 2026, karya karyanya mencuri perhatian publik.
Perupa itu bernama Endang Lestari yang berkarya dengan dominasi material tanah terakota, media logam dan transfer gambar, serta simbol-simbol kultural dan mineral untuk menciptakan abstraksi yang berlapis : antara yang terlihat dan yang terpendam.

Bagi Endang Lestari (50 th) yang akrab di sapa Tari ini, menggeluti seni keramik sejak awal studi dan karier,Tanah liat lebih dari sekedar medium berkarya, menyimpan sejarah panjang tentang kehadiran, ketidakhadiran , kelahiran dan keabadian.
Menurut Endang Lestari mendalami seni, mengajarkan kepada kita berbagai tantang tehnis dari sifat kimia tanah hingga proses pembakaran yang penuh dengan kejutan hingga membuatnya tumbuh menjadi sosok yang penuh dengan gagasan dalam proses kekaryaan.
Memilih tanah liat sebagai media utama dalam karyanya adalah keputusan yang penuh dengan konsekwensi terhadap tehnik maupun eksistensial di tengah kompleksitas budaya. Sebagai minoritas seniman perempuan untuk memahami, menyelami, dan berdamai dengan tabiat tanah liat menjadikan sahabat sekaligus guru dalam perjalanan

Puteri Jawa Kelahiran Sumatera yang tumbuh di Aceh dan kini berkarya di Yogyakarta tersebut juga dikenal sebagai perupa keramik kontemporer Indonesia.
Endang Lestari mengabstraksikan narasi-narasi berlapis tentang tanah, migrasi, ritual, dan ingatan ekologis melalui medium tanah liat dan media campuran, karyanya menelusuri jejak perpindahan dan kepulangan. menghuni ruang antara, di mana geografi, budaya, dan sejarah bertemu dan bertaut.
Dalam catatan kita, ia mengeksplorasi ekologi regeneratif yang lahir dari retakan budaya, memori yang mengendap, dan siklus alam yang terus bergerak. Ia merajut tradisi dari warisan kolektif dengan pendekatan kontemporer menelusuri jejak nenek moyang untuk membangkitkan ritual, memori tubuh, dan keterhubungan lintas budaya.
Baginya mendalami keramik kontemporer mengajarkan kepada kita berbagai tehnis dari sifat kimia tanah hingga proses pembakaran yang penuh dengan kejutan. Menggeluti seni keramik sejak awal studi dan karier,Tanah liat lebih dari sekedar medium berkarya , menyimpan sejarah panjang tentang kehadiran, ketidakhadiran, kelahiran dan keabadian, ujar perempuan yang akrab disapa Tari ini membei ilustrasi.
Endang Lestari mengeksplorasi ekologi regeneratif yang lahir dari retakan budaya, memori yang mengendap, dan siklus alam yang terus bergerak. Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ia merajut tradisi dari warisan kolektif dengan pendekatan kontemporer— menelusuri jejak nenek moyang untuk membangkitkan ritual, memori tubuh, dan keterhubungan lintas budaya.
Dalam catatan yang ada. Karya-karyanya pernah hadir dalam berbagai pameran, program publik, dan residensi, termasuk: program publik ‘Liechtenstein Triennale’ (2021), ‘Biennale Jogja XVII : TITEN’ (2023), ‘Rainforest Fringe Festival’, Sarawak, Malaysia (2017), ‘Artmoments Jakarta’ 2024, 2025), ‘ARTJOG—Art Fair: Jogja Chapter’ (2025), ICAD #15, Finalis UOB Painting of the Year (2025), serta residensi internasional di Shigaraki Ceramic Park, Jepang (2011). Karyanya ‘Conversation in Silence’ “City Lost in Words” dan ‘Forbidden to Tread on the Grass’ diulas khusus dalam buku akademik ‘Gendered Wars, Gendered Memories’ (Routledge, 2016).
Melalui sejumlah panel yang menyatu sebagai satu narasi utuh, ia merepresentasikan abstraksi kekayaan kosmis kanopi belantara Sumatera di bagian atas dan endapan mineral di bawahnya. Rupa ini, mewujud ruang pertemuan simbolik antara siluet pegunungan bukit Menoreh di Jawa dan sabuk Bukit Barisan di Sumatra ; bukan sekadar bentang alam, melainkan persilangan identitas yang melebur dan konteks kebencanaan di Indonesia.
Kesadaran itu membentuk dasar dari praktik artistik mengilustrasikan bahwa bumi bukan objek, melainkan subjek yang menyimpan memori. Namun, masa kolonial mengoyak keseimbangan itu. Migrasi paksa, eksploitasi sumber daya, dan pemisahan sosial menempatkan masyarakat pada posisi ambivalen. Pengetahuan spiritual agraris dan kosmologis bumi kian memudar oleh tata eksploitasi.
Dalam konteks ini Tari. ingin menarasikan material yang telah dieksploitasi dan mengembalikannya pada kebijakan alam, pada sistem simbol yang lebih utuh dan organik. Kehadiran cetakan fosil binatang laut dan sulur botani pada karyanya bukanlah ikon verbal yang harfiah. Perpaduan tersebut adalah simbol pemantik (trigger) ingatan kolektif. Fosil-fosil itu membatu sebagai arsip sejarah yang menolak dilupakan. Realitas historis perampasan ruang ini sesungguhnya menjadi mikrokosmos dari kondisi global hari ini.
Di saat tatanan dunia kembali dikoyak oleh peperangan yang pada esensinya bertumpu pada perebutan sumber daya alam dan eksploitasi manusia, karya ini ingin melampaui tapal batas lokalitasnya. Ia membicarakan narasi antara krisis dan pergeseran peradaban—mengingatkan kita bahwa setiap bentuk penaklukan dan ketamakan akan selalu meninggalkan luka pada “tubuh” bumi dan kemanusiaan. Sebuah Geophagia Memoria—yang menautkan fenomena ‘memakan tanah’ (geophagia) dengan ‘ingatan’ (memoria) sebagai representasi ekologis dan psiko-historis. Bagaimana bumi menyimpan memori : yang dirampas, dan harapan yang perlahan tumbuh kembali.
Performance ini mengeksplorasi hubungan antara tubuh, tanah, dan memori geografis melalui material serbuk terakota di atas kanvas yang membentuk pulau Sumatra dan Jawa. Pada awalnya kanvas Sumatra berada di lantai dan perlahan dibentuk melalui gerakan tubuh performer yang menyusun tanah. Ritual kemudian dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada bumi.
Saat kanvas diangkat ke dinding, tanah kering berjatuhan dan membentuk pulau Jawa di lantai, sementara tanah yang terkena air ritual tetap melekat membentuk Sumatra. Peristiwa ini menghadirkan metafora tentang tanah sebagai arsip hidup, tempat memori, kehilangan, dan sejarah manusia terus terbentuk, proses penciptaan karyanya tidak pernah terpaku pada konsep maupun teknik tertentu. “Semua berlangsung begitu saja, mengalir seperti air,” ujarnya. (*)

