Kisah Masa Kecil Nasrul Abit: Kehidupan Sulit, Terpaksa Merantau ke Jambi

oleh -
Nasrul Abit saat berbaur dengan siswa SD.
Nasrul Abit saat berbaur dengan siswa SD. | Semangatnews.com

Kakeknya itu meminta ayah dan dirinya untuk kembali lagi ke kampung halaman di Labuhan Tanjak, Air Haji.

Menurut sang kakek, ada tanah pusaka di kampung dan tidak ada yang merawat atau mengelolanya lagi.

“Karena permintaan tersebut, akhirnya, datanglah kakek dari Amak yang bernama Buyung Yusuf, dan meminta ayah dan amak beserta keluarga untuk kembali ke Air Haji,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemkab dan Pemrov Upayakan Kelanjutan Peningkatan Jalan Tembus Solok Selatan-Dharmasraya

Nasrul Abit memang cukup beruntung memiliki orang tua yang sangat mementingkan pendidikan.

Baca juga: Nasrul Abit Bakal Sikat Mafia Pupuk, Pastikan Tidak Keluar Daerah

Mengingat pada masa-masa itu kebanyakan para orang tua lebih suka anak-anaknya membantu mencari nafkah saja daripada menempuh dunia pendidikan.

Sekolah belum menjadi kebutuhan serta  kesadaran masyarakat di zaman pascapenjajahan itu.

Baca Juga:  Payakumbuh Mengumumkan Satu Kasus Positif Covid-19, Dua Sembuh

Tidak mengherankan banyak anak-anak usia sekolah ikut membantu orang tuanya menjadi tulang punggung keluarga.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1962, keluarga kembali ke Air Haji.

Di kampung Nasrul Abit khitan, bersamaan dengan pelaksanaan perkawinan mamandanya bernama Usman, adik dari amaknya.

Baca juga: Nasrul Abit Siap Kucurkan 87 Miliar untuk Rajawali Pendidikan di Sumbar

Baca Juga:  Wakil Bupati Terpilih Rici Aprian Menang Main Tenis Meja Ganda

Namun, setelah bertahan beberapa bulan di kampung, kondisi ekonomi keluarga tidak mengalami peningkatan. Mata pencaharian melaut dan bertani tidak maksimal.

Di laut, ikan semakin sukar didapatkan, sebab cuaca saban hari tidak menguntungkan. Masa paceklit sedang dihadapi nelayan saat itu.