Kisah Masa Kecil Nasrul Abit: Kehidupan Sulit, Terpaksa Merantau ke Jambi

oleh -
Nasrul Abit saat berbaur dengan siswa SD.
Nasrul Abit saat berbaur dengan siswa SD. | Semangatnews.com

Begitu pula hasil pertanian selalu mengalami gagal panen, sementara tuntutan kebutuhan ekonomi semakin tinggi.

Setelah itu, atas izin keluarga, sang ayah dan Nasrul Abit kembali lagi ke pulau Lintang, Sarolangun. Sedangkan amak dan adik-adiknya tetap tinggal di Labuhan Tanjak, Air Haji.

Berselang beberapa tahun dalam mengelola ekonomi melalui usaha perkebunan dan jual getah karet, akhirnya sang ayah memutuskan untuk hidup bersama-sama saja di kampung Labuhan Tanjak.

Baca Juga:  AXFC Sumbar Berikan Bantuan dan Kenalkan Kota Budaya

Baca juga: Nasrul Abit Akan Perjuangkan Nasib ASN dan Honorer di Sumbar

Di Labuhan Tanjak Air Haji ayahnya kembali menekuni pekerjaan sebagai pelaut, bertani dan berkebun. Sedangkan Nasrul Abit kembali melanjutkan sekolah.

Nasrul Abit masuk ke Sekolah Rakyat (SR) setara SD di perkampungan Alang Sungkai, yang berjarak sekitar 4 kilometer dari rumahnya. Baik pergi maupun pulang ditempuhnya dengan  berjalan kaki.

Baca Juga:  411 Nakes Padang Panjang Sudah Divaksinasi Covid-19

Kondisi kebutuhan keluarga makin meningkat, Nasrul Abit kembali mempunyai adik, bernama Isdawati, Enisuarti, dan Epinardi (Alm).

Kondisi ekonomi keluarga juga yang menghukum, maka ketika duduk di kelas VI, Nasrul Abit sempat berhenti sekolah.

Selama masa menganggur, ia semakin giat membantu pekerjaan kedua orang tuanya.

Apalagi saat itu usianya sudah 12 tahun, sehingga tenaganya sudah dapat diandalkan.

Baca Juga:  Anniversary Pertama  Posyandu Mandiri Rasaki Dia “Tingkatkan Pelayanan, Posyandu Tetap Patuhi Protokol Kesehatan”

Baca juga: Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Nasrul Abit Rencanakan Wisata Mancing Keliling Pulau di Carocok Painan

Jika siang hari, ia rajin membantu ayahnya melaut untuk mencari ikan, membantu bertani, berkebun, mengembala ternak, sapi, ayam,maupun itik.