Kisah Nasrul Abit: Jualan Batu Akik hingga Cincau saat STM di Padang

oleh -
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar.
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar. | Istimewa

Bahan-bahan batu akik dalam bentuk karungan ini ia ambil dari pantai Ujung Tanjung di kampungnya yang memang dikenal sebagai kawasan pantai penghasil berbagai jenis batu akik. Kemudian ia menjualnya di pasar Gon Hoat Padang.

Suatu hari bertolak ke Padang membawa satu karung ukuran kecil batu akik dan ketika hendak menyeberang di kawasan jalan Thamrin (sekarang) Kota Padang, sempat berserakkan batu di jalan raya.

Terpaksa satu persatu dikumpulkan bagi yang kelihatan saja untuk bawa kepada penampung depan masjid Taqwa Muhammadiyah sekarang atau tempat dekat bundaran air mancur Pasar Raya Padang.

Di samping berjualan batu akik, Nasrul juga pernah berjualan cincau, ia masih ingat betul teman-temannya seperantauan seperti Sion, Simen, Ujang Zulkarnain, dan Haminuddin, turut berdagang cincau.

“Kami bersahabat, karena senasib sepenanggungan, sama-sama datang dari Air Haji, mengadu untung di Padang, demi merubah nasib,” kata Nasrul.

Memang perlu semangat besar untuk bisa sekolah di Padang waktu itu. Meskipun demikian, hal itu bukan hal yang aneh dalam kehidupan Nasrul.

Ia memang sosok yang tidak pernah menyerah atau kehabisan akal. Prinsipnya waktu itu adalah bagaimana ia bisa meringankan beban biaya orang tuanya di kampung.

Baca juga: Selain Hobi Memancing, Nasrul Abit Punya Kebiasaan Menulis

Padang memang bukan kota untuk bersenang-senang, apalagi bagi orang seperti dirinya.

Ia berangkat ke Padang untuk sekolah, makanya Nasrul harus putar otak demi pendidikan STM-nya dapat diselesaikan.

Pada akhir tahun 1975, Nasrul berhasil meraih ijazah STM Kota Padang.

Namun kehidupan ekonomi keluarga di kampung belum menunjukan tanda-tanda perbaikan.

Sementara jumlah anggota keluarga sudah bertambah tiga orang lagi yaitu, Isdawati, Eni Suarti, dan Epi Nardi. Dengan demikian, anggota keluarganya menjadi tujuh orang.

Untuk itulah Nasrul ingin merantau ke Tanjung Karang untuk mencari kehidupan yang lebih baik, sekaligus membantu kehidupan orang tuanya di kampung halaman.

Tanjung Karang Kota Impian

Setelah mengantongi ijazah, harapan untuk memperoleh hidup lebih baik, memang masih muncul dan tenggelam.

Terbayang keluarga di Labuhan Tanjak, Ayah dan Amak, kakak, dan adik-adik, yang semuanya berkubang dengan kemiskinan. Bila sudah begini tak terasa air matanya pun meleleh.

“Saya gusar bila perjuangan akan berhenti di tepi Batang Air Haji, terbayang laut lepas Pasir Ganting dan Ujung Tanjung, akankah berakhir di sana?” kenangnya.

Suatu ketika di dalam kegagalan itu, datang salah seorang dari pamannya yang bernama Syahrial, membawa pesan dari Mamanda Ali Umar yang tingal di Tanjung Karang Provinsi Lampung.