Kisah Nasrul Abit: Jualan Batu Akik hingga Cincau saat STM di Padang

oleh -
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar.
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar. | Istimewa

Ia mengajak Nasrul agar mau mengadu nasib di Tanjung Karang. Mamanda Ali Umar memang sudah lama merantau kesana.

Baca juga: Nasrul Abit Bakal Sikat Mafia Pupuk, Pastikan Tidak Keluar Daerah

Bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri sipil (PNS) pada Dinas Kesehatan, Provinsi Lampung.

Bukan main senang hati Nasrul pucuk dicinta ulam pun tiba, pikirnya dalam hati. Kesempatan tersebut pun tak ingin ia sia-sia kan.

Tanpa berpikir lagi Nasrul menerima tawaran mamanda Ali Umar untuk berangkat menuju tanah rantau yang baru.

Tanah yang kemudian banyak mengisahkan kehidupan duka, suka, tanah nasib, ya, Tanjung Karang. “Mungkin inilah peluang,” pikir Nasrul Abit.

Jika selama ini semasa menjadi anak sekolah beban itu masih bergelayut pada orang tua, namun semuanya kini harus berubah.

Nasrul tetap menginsyafi bahwa tekad untuk berubah tidak segampang mengucapkannya dan tidak semudah membalik telapak tangan.

Langkah itu masih belum jelas hendak dibawa kemana, tidak ada yang tahu. Hanya Allah SWT sang maha penentu.

“Ya Allah bimbinglah langkah hamba-Mu ini.” Inilah munajat yang sering disampaikan Nasrul.

Kalau pun merupakan jawaban, Nasrul merasa bersyukur, apalagi tujuan perantauannya kali ini adalah Tanjung Karang.

Baca juga: Nasrul Abit Akan Perjuangkan Nasib ASN dan Honorer di Sumbar

Sebuah kota yang oleh rabab acap menceritakan negeri ini, sebagai tempat mengadu nasib anak Pesisir Selatan.

Negeri yang juga tersohor sebagai tempat perantauan yang ramah bagi nasib, apalagi di sana tinggal sanak famili termasuk Ali Umar bersama istrinya, etek Ratna Misna dan mamanda Syahrial.

Mereka berdua adalah Mamaknya Nasrul, dan tentu pada prinsipnya, Mamak di Minang dimanapun mereka berdiam, filosofi “anak dipangku kemenakan dibimbiang” (anak dipangku keponakan dibimbing), tidak boleh diabaikan.

Tidak lama berselang, sekitar tanggal 4 Januari 1976, pertama kali Nasrul menginjakkan kakinya di Tanjung Karang.

Kota ini betul-betul dalam kenyataan, bukan mimpi. Tanjung Karang begitu menjanjikan, bahkan semuanya melampaui apa yang ada dalam angan Nasrul selama ini.

Satu-dua minggu Nasrul masih berusaha mengenal lebih jauh kota ini, sekaligus mencari dan memahami tentang apa dan bagaimana kota sebesar Tanjung Karang.

Rasanya ia ingin segera menaklukkannya. Sebagai kota urban, Tanjung Karang dihuni oleh berbagai etnis dan suku yang datang dari penjuru tanah air.

Ada Jawa, batak, Minang, Ambon, China dan suku-suku lain, kehidupan berputar dan berpencar.