Kisah Nasrul Abit: Jualan Batu Akik hingga Cincau saat STM di Padang

oleh -
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar.
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar. | Istimewa

Sebagai anak dagang (anak rantau), apapun akan dilakukan Nasrul demi mewujudkan tekadnya mencapai kehidupan yang lebih baik dan bisa membantu keluarga.

Tidak ada pantangan, bekerja dengan baik, serabutan ataupun pekerjaan kasar sekalipun, asal halal.

Apalagi ia ingin agar kehadirannya di Kota Tanjung Karang ini, tidak menjadi beban mamanda Ali umar dan Etek Ratna.

Sebelum mendapat pekerjaan di Tanjung Karang, Nasrul membantu pekerjaan menjahit di tempat Mamanda Syahrial.

Ia juga sempat menjadi buruh bangunan (kenek tukang batu) dan juga mengambil upahan memetik cengkeh Krui Lampung Utara.

Dari upah inilah kemudian ia gunakan untuk pergi mengadu nasib ke Jakarta.

Selama di Jakarta, Nasrul tinggal pada salah seorang pamannya di kawasan Simpruk, Ucu Darwis.

Dari situ surat lamaran pun segera disebar ke beberapa perusahaan, utamanya perusahaan BUMN yang bergerak di bidang jasa konstruksi, sesuai ilmu yang ia miliki.

Salah satu sasaran utama Nasrul adalah perusahaan ternama yang bergerak dalam bidang konsrtuksi dan pembangunan gedung.

Dua bulan di Jakarta mamandanya, Ali Umar meminta Nasrul kembali ke Tanjung Karang, karena Di Jakarta pun ia belum mendapat pekerjaan.

Di Tanjung Karang Nasrul pun menjalani kehidupan yang pernah dilakoninya. Bekerja apa saja yang penting dapat mendapatkan penghasilan.

Ia menjadi kenek tukang batu pada proyek perumahan Teluk Betung-Bakahuni. Rupanya pekerjaan yang dilakukan Nasrul tercium oleh Etek Ratna, ia pun dimarahi.

Setelah itu, Nasrul pun berhenti dan kembali lagi membantu mamanda Syahrial menjahit pakaian.

Mulanya semua berjalan serba sulit, hidup di kota besar seperti Tanjung Karang tidaklah mudah.

Persaingan, dan kompetensi tidak terelakkan, siapa yang kreatif dan aktif, maka dia akan muncul sebagai pemenang. Pemenang dalam kehidupan.

Nasrul mengaku sulit rasanya melupakan jasa Mamak Ali Umar dan Etek Ratna.

“Sepanjang hayat dikandung badan, apa yang beliau berikan sungguh sebuah karya yang tidak ternilai, walau ditimbang dengan emas dan perak sekalipun,” kata Nasrul Abit.

Mamanda Ali Umar membimbing Nasrul layaknya anak kandung. Bahkan tak ada hijab antara Nasrul dan anak-anaknya. Semuanya mendapat kesempatan membangun masa depan yang layak dan cemerlang.

Sampai saat ini, Nasrul menganggap Mamak Ali Umar dan Etek Ratna bukan lagi sekedar mamak dan etek, tetapi sudah seperti orang tua kandung.

Berkat tangan dingin sang mamak, Nasrul menjadi pandai bersikap, bertindak dan bergaul, agar orang senang dengan dirinya.