Kisah Nasrul Abit: Jualan Batu Akik hingga Cincau saat STM di Padang

oleh -
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar.
Nasrul Abit saat berfoto dengan siswa SMA di Sumbar. | Istimewa

Ketika masih duduk di sekolah ST di Balai Selasa, pernah juga Nasrul terpikir untuk mengikuti jejak mamaknya.

Tetapi keinginan itu hilang begitu saja karena masalah pendidikan. Lagi pula orang tua Nasrul pasti tidak akan mengizinkan dirinya pergi jauh merantau ke negeri orang jika ujung-ujungnya akan menjadi kuli. Tinggal di kampung saja lebih baik.

“Kalau ka jadi kuli juo manga lah marantau, hujan ameh di rantau hujan batu di kampuang ancak juo di kampuang lai (Bila untuk menjadi kuli buat apa merantau, hujan emas di rantau orang hujan batu di kampung bagus juga di kampung),” ujar Amaknya suatu kali, sebagaimana ditirukan Nasrul.

Namun selepas STM, Nasrul merasa sudah mempunyai modal dasar yang cukup untuk melangkahkan kaki meninggalkan kampung. Karantau madang di hulu babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di kampuang paguno balu (merantau bujang dahulu di kampung belum berguna), pepatah itulah yang melecut semangat Nasrul untuk merantau memperbaiki nasib.

Memang serba dilematis, kalau Nasrul ingin tetap bertahan di kampung, tentu ilmu yang didapat selama mengenyam pendidikan akan hilang ditelan waktu.

Percuma susah payah menamatkan sekolah hingga ke Padang, kalau kapal “kembali surut”, kembali ke Air Haji.

Nasrul tidak akan menggadaikan masa depannya, yang telah ia bangun dengan susah payah.

Nasrul bukanlah anak yang cengeng dan nyaman di ketiak Ayah atau Amaknya. Sebagai anak lelaki, Nasrul berkewajiban mengangkat marwah keluarga. (*)