Penanganan Covid-19 Fallacy ?

oleh -

Target Kelompok : Informasi, Pengetahuan, Keyakinan & Pembuktian Covid-19

Kepedulian yang terbentuk dari pengetahuan yang cukup dan memadai, dan tentunya dari informasi yang diperoleh jelas dan akurat sumbernya. Tentunya, kelompok yang paling aman saat ini orang yang mempunyai pengetahuan yang tinggi dan kepedulian yang tinggi terhadap Covid-19.

Awalnya kita menyadari, yang akan menjadi target untuk diberikan promosi dan edukasi yang masif adalah orang-orang berpengetahuan rendah dan yang tidak peduli, ini yang disebut kelompok yang berbahaya.

Ketika kasus Covid-19 ini berkembang, tidak sedikit yang kasus positif berasal dari orang-orang yang pada kelompok yang rawan. Yakni, orang-orang yang mempuyai pengetahuan rendah tetapi dia sangat peduli atau orang-orang yang pengetahuannya tinggi tetapi dia tidak peduli terhadap Covid-19.

Saat ini, pengetahuan dan kepedulian ternyata juga tidak cukup bagi sekelompok orang untuk mempercayai Covid-19 ini. Keyakinan atas bahaya Covid-19 perlu pembuktian sekelompok orang.

Keyakinan yang paling sulit adalah ketika kita tidak menyadari objek virus ini nyata adanya, apalagi kasus dilaporkan lebih dari 80% kasus orang tanpa gejala. Disini tantangannya, orang tidak akan percaya ketika seseorang atau kerabatnya merasakan kenyataannya bahayanya virus corona ini.

Sebagaimana analogi selama ini, seseorang tidak akan berhenti merokok, jika sudah batuk darah dan sesak nafas, apalagi sudah dirawat atau telah terdiagnosis kanker paru.

Analogi ini juga jadi contoh bagaimana keyakinan terbentuk memang harus dirasakan adanya. Berdasarkan data Covid-19 dilaporkan, meskipun angka kesembuhan terus menunjukan peningkatan, tentunya kita tidak bisa mengabaikan laju kematian yang juga terus meningkat beberapa pekan terakhir ini.

Inilah fenomena saat ini, kalau seseorang belum sakit mereka tetap akan abai dalam mencegah terjadinya sakit atau mendapatkan penyakit. Mencegah tentu lebih baik dari pada kita terinfeksi/sakit dan yang akan berujung kematian kedepan.

Epidemiological Fallacy

Testing yang massif dalam upaya deteksi secara awal terhadap Covid-19, sesungguhnya berdampak terhadap memutus mata rantai penularan. Faktanya apa yang terjadi.?, salah satu konsekuensi melakukan testing dengan massif adalah penemuan kasus yang meningkat.

Penemuan kasus yang meningkat ini yang harus dipahami., bagaimana memaknai peningkatan kasus sebuah konsekuensi testing atau penularan yang sebenarnya tidak terkendali?. Ini yang seharusnya dilihat secara komprehensif.

Disinilah akan diuji, kemampuan testing kita akan berpacu dengan kecepatan penyebaran virus. Jadi, kita tidak bisa mengandalkan hebatnya kemampuan testing saja. Dalam pengendalian, kita membahas bagaimana laju infeksi benar-benar bisa ditekan dan beriringan dengan testing yang masif dilakukan.