Penanganan Covid-19 Fallacy ?

oleh -

Penyebaran virus terjadi ketika host (orang) tidak terkontrol dengan baik. Salah satu jalur penularan Covid-19 adalah dari orang ke orang, pengendalian penularan seperti ini memang menitik beratkan mobilitas, aktivitas dan perilaku orang yang perlu dikendalikan.

Salah satu kekeliruan parameter epidemiologi selama ini, seolah-olah angka positive rate dibawah 5% dianggap keadaan yang sudah baik. Padahal, angka positive rate ini juga harus dihitung dengan benar.

Denominatornya bukan jumlah sampel yang dikirim atau diperiksa tetapi jumlah individu sampel yang diperiksa. Disini bias/error terjadi, karena ada individu sampel yang diperiksa berulang. Inipun juga harus dilakukan dengan komprehensif surveilans dalam pengujian kasus suspek serta dievaluasi selama 2 minggu.

Bukan tiap hari dilaporkan gugus tugas selama ini. Jika dipastikan kondisi yang baik, angka positive rate yang kurang dari 5% juga harus diikuti dengan penurunan kasus rawatan & ICU secara terus menerus selama 2 minggu. Jadi, hasil ini akan terdilusi, tidak ada maknanya angka positive rate yang rendah sedangkan jumlah kasus rawatan dan ICU Covid-19 meningkat.

Apalagi, rumah sakit dilaporkan penuh dan tidak sanggup menampung pasien dengan gejala sedang dan berat. Dalam pengendalian, analisis dan surveilans yang mumpuni, lonjakan kasus sedang dan berat ini bisa diantisipasi sebelumnya.

Epidemic intelligence dalam penguatan komprehensif surveilence harus diimbangi ketika testing massif dilakukan.

Penyediaan tempat isolasi menjadi konsekuensi yang harus disediakan pemerintah. Jika tidak, mustahil mata rantai penularan itu terputus.

Ibarat main petak-umpet (main Cik-Mancik), ketika kita berhasil menangkap, yang ditangkap menularkan lagi karena tempat isolasi yang tidak ada dan isolasi yang tidak benar dilakukan.

Ini menjadi pekerjaan yang sia-sia pada akhirnya dikarenakan strategi dan pengendalian tidak komprehensif dilakukan. Ketika virus corona ini tetap ada, dan kita terus beraktivitas.

Kesetimbangan epidemiologi antara Agent (Virus), Host (Orang) dan Enviroment (Lingkungan) ini yang menjadi pendekatan utama dalam upaya pengendalian Covid-19.

Menata Ulang Kembali Strategi Pengendalian Covid-19

Tidak ada kata terlambat, strategi pengendalian perlu ditata ulang.
*_Pertama_*, penguatan peran dinas kesehatan sebagai _leader_, baik provinsi, kabupaten dan kota dalam upaya pengendalian untuk memutus mata rantai penularan dan laju penularan dan kematian Covid-19.

Berikanlah kepercayaan kepada dinas kesehatan dalam mengatur strategi secara komprehensif, semua komponen strategi pengendalian secara sistematis bisa diupayakan bersinergi dengan kapastias laboratorium dan komponen lainnya. Masalah terbesar saat ini adalah ketika kepala daerah tidak yakin dinas kesehatan mampu mengambil peran ini.