Penanganan Covid-19 Fallacy ?

oleh -

Awalnya kita menyadari, yang akan menjadi target untuk diberikan promosi dan edukasi yang masif adalah orang-orang berpengetahuan rendah dan yang tidak peduli, ini yang disebut kelompok yang berbahaya.

Ketika kasus Covid-19 ini berkembang, tidak sedikit yang kasus positif berasal dari orang-orang yang pada kelompok yang rawan. Yakni, orang-orang yang mempuyai pengetahuan rendah tetapi dia sangat peduli atau orang-orang yang pengetahuannya tinggi tetapi dia tidak peduli terhadap Covid-19.

Baca Juga:  Sejarah Hari Sumpah Pemuda dan Isi Teks Asli beserta Gambarnya, 28 Oktober

Saat ini, pengetahuan dan kepedulian ternyata juga tidak cukup bagi sekelompok orang untuk mempercayai Covid-19 ini. Keyakinan atas bahaya Covid-19 perlu pembuktian sekelompok orang.

Keyakinan yang paling sulit adalah ketika kita tidak menyadari objek virus ini nyata adanya, apalagi kasus dilaporkan lebih dari 80% kasus orang tanpa gejala. Disini tantangannya, orang tidak akan percaya ketika seseorang atau kerabatnya merasakan kenyataannya bahayanya virus corona ini.

Baca Juga:  Tanpa Karantina! Thailand Izinkan Turis 46 Negara Masuk Mulai 1 November 2021

Sebagaimana analogi selama ini, seseorang tidak akan berhenti merokok, jika sudah batuk darah dan sesak nafas, apalagi sudah dirawat atau telah terdiagnosis kanker paru.

Analogi ini juga jadi contoh bagaimana keyakinan terbentuk memang harus dirasakan adanya. Berdasarkan data Covid-19 dilaporkan, meskipun angka kesembuhan terus menunjukan peningkatan, tentunya kita tidak bisa mengabaikan laju kematian yang juga terus meningkat beberapa pekan terakhir ini.

Baca Juga:  [Sedang Berlangsung] China Taipei vs Indonesia 0-1 | Egy Maulana Vikri

Inilah fenomena saat ini, kalau seseorang belum sakit mereka tetap akan abai dalam mencegah terjadinya sakit atau mendapatkan penyakit. Mencegah tentu lebih baik dari pada kita terinfeksi/sakit dan yang akan berujung kematian kedepan.

No More Posts Available.

No more pages to load.