Penanganan Covid-19 Fallacy ?

oleh -

Epidemiological Fallacy

Testing yang massif dalam upaya deteksi secara awal terhadap Covid-19, sesungguhnya berdampak terhadap memutus mata rantai penularan. Faktanya apa yang terjadi.?, salah satu konsekuensi melakukan testing dengan massif adalah penemuan kasus yang meningkat.

Penemuan kasus yang meningkat ini yang harus dipahami., bagaimana memaknai peningkatan kasus sebuah konsekuensi testing atau penularan yang sebenarnya tidak terkendali?. Ini yang seharusnya dilihat secara komprehensif.

Disinilah akan diuji, kemampuan testing kita akan berpacu dengan kecepatan penyebaran virus. Jadi, kita tidak bisa mengandalkan hebatnya kemampuan testing saja. Dalam pengendalian, kita membahas bagaimana laju infeksi benar-benar bisa ditekan dan beriringan dengan testing yang masif dilakukan.

Baca Juga:  [Sejarah] Lagu 'Genjer Genjer' Dilarang, Apa Sebenarnya Lirik dan Maknanya dalam Bahasa Indonesia

Penyebaran virus terjadi ketika host (orang) tidak terkontrol dengan baik. Salah satu jalur penularan Covid-19 adalah dari orang ke orang, pengendalian penularan seperti ini memang menitik beratkan mobilitas, aktivitas dan perilaku orang yang perlu dikendalikan.

Salah satu kekeliruan parameter epidemiologi selama ini, seolah-olah angka positive rate dibawah 5% dianggap keadaan yang sudah baik. Padahal, angka positive rate ini juga harus dihitung dengan benar.

Baca Juga:  Twibbon Hari Pangan Internasional 2021, Pasang Bingkai Foto 'World Food Day' 16 Oktober 2021

Denominatornya bukan jumlah sampel yang dikirim atau diperiksa tetapi jumlah individu sampel yang diperiksa. Disini bias/error terjadi, karena ada individu sampel yang diperiksa berulang. Inipun juga harus dilakukan dengan komprehensif surveilans dalam pengujian kasus suspek serta dievaluasi selama 2 minggu.

No More Posts Available.

No more pages to load.