Penanganan Covid-19 Fallacy ?

oleh -

*_Kedua_*, strategi harus sistematis dalam upaya deteksi (detect, test & treat), pelacakan kontak (contact tracing), isolasi, promosi, edukasi dan literasi risiko Covid-19 dan protokol kesehatan serta kesiapan sistem kesehatan.

Ini tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Benar-benar diukur dan dievaluasi dengan baik dan cermat. Jalankan mesin birokrasi yang sesuai dengan bidangnya, jangan tempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi untuk mengatur strategi dalam pengendalian, disinformasi akan terjadi dan ini akan memperburuk kondisi dilapangan.

*_Ketiga_*, partisipasi masyarakat perlu dibangun berkelanjutan. Ini sangat penting sebagai bekal kedepan, modal sosial atau jejaring sosial yang ada selama ini seolah-olah tertelan akibat Covid-19. Kita ada kader kesehatan, majelis taklim, kelompok tani dan kelompok tanggap bencana, dan beberapa kabupaten/kota yang sudah teroganisir dalam satuan desa siaga atau kampung KB dan lainnya.

Mesin sosial ini yang harus digerakan kembali. Kita menyadari, pandemi ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. Dibutuhkan solidaritas bersama, melakukan aksi nyata saling bahu-membahu bersinergi dapam upaya pegendalian Covid-19.

*_Keempat_*, penilaian dan skenario yang terukur. Event atau kegiatan-kegiatan besar yang sangat berisiko akan tetap diambil dan dilakukan oleh pemerintah kedepan. Pilkada contohnya, meskipun sudah aturan yang mengatur. Penilaian risiko dan skenario terburuk harus bisa diperkirakan kedepan. Kesiapan dan respon perlu direncanakan dengan baik.

Bagaimanapun, memastikan kesiapan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan melaksanakan pesta demokrasi ini perlu dinilai secara komprehensif dan skenario strategi pengedalian juga perlu disiapkan dalam menekan laju penularan.(*)

Defriman Djafri
Dekan, Fakultas Kesehatan Masyarakat , Universitas Andalas
Ketua, Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Provinsi Sumatera Barat