Penanganan Covid-19 Fallacy ?

oleh -

Berikanlah kepercayaan kepada dinas kesehatan dalam mengatur strategi secara komprehensif, semua komponen strategi pengendalian secara sistematis bisa diupayakan bersinergi dengan kapastias laboratorium dan komponen lainnya. Masalah terbesar saat ini adalah ketika kepala daerah tidak yakin dinas kesehatan mampu mengambil peran ini.

*_Kedua_*, strategi harus sistematis dalam upaya deteksi (detect, test & treat), pelacakan kontak (contact tracing), isolasi, promosi, edukasi dan literasi risiko Covid-19 dan protokol kesehatan serta kesiapan sistem kesehatan.

Baca Juga:  94 Persen Pasien COVID-19 yang Meninggal Dunia Belum Divaksin

Ini tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Benar-benar diukur dan dievaluasi dengan baik dan cermat. Jalankan mesin birokrasi yang sesuai dengan bidangnya, jangan tempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi untuk mengatur strategi dalam pengendalian, disinformasi akan terjadi dan ini akan memperburuk kondisi dilapangan.

*_Ketiga_*, partisipasi masyarakat perlu dibangun berkelanjutan. Ini sangat penting sebagai bekal kedepan, modal sosial atau jejaring sosial yang ada selama ini seolah-olah tertelan akibat Covid-19. Kita ada kader kesehatan, majelis taklim, kelompok tani dan kelompok tanggap bencana, dan beberapa kabupaten/kota yang sudah teroganisir dalam satuan desa siaga atau kampung KB dan lainnya.

Baca Juga:  Sisi Lain Napoleon Bonaparte, Syahganda Nainggolan : Cocok Jadi Kapolri

Mesin sosial ini yang harus digerakan kembali. Kita menyadari, pandemi ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. Dibutuhkan solidaritas bersama, melakukan aksi nyata saling bahu-membahu bersinergi dapam upaya pegendalian Covid-19.

No More Posts Available.

No more pages to load.