Lukisan Pemandangan Alam Muhammad Ridwan dan Mooi Indie

by -
Pelukis Muhammad Ridwan

Oleh : Muharyadi

SEMANGATNEWS.COM, PADANG – Tahun 2017 silam Muhammad Ridwan (43 th) melalui pameran “Bakaba”, lukisannya “Landscape Mooi Indie # 4”, akrilik, 150×250 cm, yang digelar di Jogja Galeri, Yogyakarta selama seminggu cukup mendapat perhatian publik dari puluhan karya “urang awak” yang digelar saat itu.

Pada pameran “Alua jo Patuik” (29 November sd 8 Desember 2022) lalu di Gedung Olah Raga, Khatib Sulaiman, Banca Laweh, Padang Panjang, Sumatera Barat karyanya yang dibuat dalam ukuran besar berjudul “Gunung singgalang, Koto Gadang”, 215×135 cm, Acrylic, 2022. Kembali menjadi salah satu perhatian pengunjung dari puluhan karya yang digelar.

Sejak saya mengenal karya-karyanya hampir dua dekade lalu melalui pameran, baik di Sumbar maupun di luar daerah, Muhammad Ridwan yang akrab disapa Mamad ini, kelahiran Sulit Air, Kabupaten Solok ini terlihat piawai melukis obyek-obyek pemandangan alam yang indah, menawan, bahkan mampu menghipnotis mata.

Lukisan Muhammad Ridwan, Gunung Singgalang, Koto Gadang, 215 x 135 cm, Acrylic, 2022

Yang menarik, ditengah bermunculan karya-karya kontemporer merambah seni rupa tanah air dengan berbagai kecendrungan, bahkan ada diantaranya sulit ditelusuri secara mata telanjang, ternyata Mamad masih setia dengan style naturalisnya dengan pekerjaan detail, rinci dan butuh skill khusus melihat apa yang ada dan sedang terjadi dihadapan kita.

Banyak yang berpendapat melukis pemandangan alam tak ubahnya mempergunakan kamera kemudian memotret bagian yang ada di alam, tetapi unsur emosional dan psikologis sebagaimana lukisan tidak masuk dalam obyek foto karena telah diatur oleh teknologi kamera.

Anggapan diatas tak salah, kebanyakan lukisan pemandangan alam yang kita saksikan dalam berbagai kesempatan pameran, lebih melihat obyek secara formalistik bersifat teknis, unsur unsur psikologi atau kejiwaan maupun ekspresi pelukis tidak dilihat sebagai kekuatan lukisan.

Akan halnya lukisan pemandangan alam yang banyak disiasati pelukis dunia, Cezanne pernah mengklarifikasi lukisan-lukisan pemandangan alam yang dikerjakannya bahwa ; ”Pemandangan memantul dalam diri saya, menjadi manusiawi dan dapat dipahami”.

Setiap garis mengungkapkan kelandaian, kesan menjuntai, kepaparan, menyembul, menurun dengan lembut dari bentuk bangun pemandangan. Tujuan hakiki pemandangan harus mampu membangkitkan perasaan jelas dan trimatra. Sementara Richard Dawes, menanggapi lukisan pemandangan Monet dalam menangkap kualitas cahaya alami merupakan pencaharian seumur hidup sampai akhirnya ia bertemu dengan cahaya terang murni dari daerah Mediterance.

Lukisan Pemandangan Alam Dunia dan Indonesia

Dalam sejarah lukisan pemandangan dunia dari berbagai sumber literatur diperoleh gambaran sampai awal abad XIX hampir dikatakan tidak ada lukisan pemandangan yang mempunyai obyek tertentu dimana obyek dan lokasi tampat pemandangan alam digambarkan. Namun hasil-hasil lukisan yang digambarkan merupakan hasil konstruksi atau susunan unsur-unsur yang baik yang diambil dari alam oleh senimannya.

Banyak pelukis dunia pergi keluar rumah, pergi ke hutan, ke ladang atau ketempat-tempat tertentu melukis obyek-obyek yang akhirnya menjadi populer apalagi masa impresionisme muncul kepermukaan. Hal yang menarik saat itu para pelukis bukan lagi memposisikan unsur-unsur di alam, tetapi telah menentukan pilihan obyek dan siap dipindahkan kepermukaan.

Sejarah mencatat, Inggris sebenarnya memiliki tradisi panjang dalam seni lukis pemandangan alam dan memiliki sejarah penting seni lukis moderen dunia, persisnya saat pelukis dengan mudah memperoleh bahan cat minyak, kanvas dan lainnya untuk menangkap dan memindahkan pemandangan alam kepermukaan kanvas. Lihat karya Thomas Gainsborough (1727-1788) dan John Constable (1776-1837) dan beberapa nama pelukis lain.

Pelukis Thomas Gainsborough perlakuannya terhadap alam yang khas dan menarik ternyata telah memberi andil besar buat ekspresi romantik Dibanding karya Poussin yang mengakrabi kecendrungan klasik konstruktif, maka terlihatlah dengan jelas bahwa lukisan-lukisan Thomas Gainsborough lebih kental ritme dan detailnya tidak terlalu fotografis, jika dibandingkan lukisan pemandangan dari Nederland dengan sifat-sifat romantik di dalamnya.

Lukisan pemandangan Inggris mempunyai ciri khas melalui lemah lembut dan tanggapan terasa langsung, mengenakkan yang tidak bersifat analitik. Kebanyakan lukisan pemandangan alam Inggris tidak berbau klise, melainkan tangkapan yang segar atas obyek-obyeknya. Sementara karya John Constable, menemukan asmosfer sebagai elemen menarik, misalnya panas matahari seolah-olah dirasakan jika melihat lukisan pemandangannya termasuk lukisan ”Salisbury Cathedral” yang dapat dirasakan suasana serta emosional pelukisnya, karena lukisan ini terasa teduh, bermandikan cahaya matahari, benar-benar terasa pada karya John Constable.

Bahkan karya John Constable begitu populer dan digandrungi pelukis Perancis Delacroix berjudul ”The Haywain” (1821). Sapuan-sapuan kuasnya terasa segar dan menghasilkan warna-warna yang cemerlang, seperti warna hijau penuh nuansa amat dikagumi pelukis asal Perancis itu. Karyanya yang lain lebih bebas dan ekspresif berjudul ”The Leaping Horse” (1824). Karya pelukis Joseph William Turner (1775-1851), Claude dan Poussin, maupun keromantikan lukisan Rubens serta kalangan pelukis pemandangan alam dari Belanda secara umum rata-rata tertarik pada realitas visual sebagai gambaran atmosferik yang cukup kuat bahkan ekspresif.

Sejalan perkembangan seni lukis moderen di Indonesia, tradisi lukisan pemandangan alam ditandai kedatangan orang-orang Belanda setelah hampir seluruh kepulauan nusantara ini dikuasainya yang merupakan awal perkenalan bangsa Indonesia dengan gaya seni lukis Eropa. Perkenalan ini sebenarnya tidak langsung melalui lukisan-lukisan yang sengaja dibawa untuk hiasan orang-orang Belanda melalui para pelukis yang sengaja datang karena tertarik keindahan alam Indonesia, diantara mereka –mereka ini akhirnya banyak pula yang menetap di tanah air.

Dari perkenalan itu diketahui gaya lukisan yang mereka bawa dan mereka buat, ditambah munculnya pelukis pribumi mengikuti jejak tradisi mereka bahkan berguru pada seorang pelukis Belgia A.A.J. Payen. Maka tercatatlah dalam perjalanan seni rupa di tanah air, hingga terjadi perubahan besar gaya seni lukis tradisional kepada realistis Eropa.

A.A.J. Payen ditugaskan pada Badan Penyelidikan Pengetahuan dan kesenian di Bogor, tugas sehari-harinya adalah melukis pemandangan-pemandangan yang ada di Indonesia. A.A.J. Payen tertarik pada bakat yang dimiliki Raden Saleh Bustamam yang ketika itu sedang dididik untuk menjadi seorang pegawai Belanda di Cianjur dalam perjalanan melukis di pulau Jawa.

Kemajuan Raden Saleh pesat sekali, sehingga A.A.J. Payen guru pertama Raden Saleh berani mengajukan Raden Saleh diberi kesempatan mengunjungi Belanda. Kebetulan Inspektur Keuangan Belanda De Linge, memerlukan seorang pengiring yang berkesanggupan berbahasa Melayu dan mempunyai pengetahuan lain tentang kebudayaan Jawa. Pilihan jatuh kepada Raden Saleh yang telah dididik menjadi calon pegawai pemerintah kerajaan Belanda.

Ternyata bukanlah kunjungan singkat melainkan sangat lama sekali sekitar 20 tahun. Sepulang dari Belanda tahun 1851 kemampuan Raden Saleh sangat mengagumkan sampai orang Belanda sendiri mensejajarkannya dengan pelukis-pelukis mereka sendiri. Saat itu Raden Saleh banyak membuat lukisan-lukisan potret. Selain pemandangan alam Jawa yang diikuti sejumlah pelukis lain di Indonesia. Karya-karya Raden Saleh obyek pemandangan alam diantaranya ; ”Orang berjalan kaki”, ”Kampung” dan lainnya.

Lima puluh tahun kemudian muncul Indonesia Jelita atau”Mooi Indie” dengan tokoh-tokohnya Abdullah SR, M. Pirngadi dan Wakidi. Ketiga pelukis dikenal dengan lukisan-lukisan pemandangan alam menggambarkan keelokan panorama di tanah air termasuk karya-karya masterpiece Basuki Abdullah. Dari kelompok pelukis asing tercatat Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Dezentje, Adolf, Walter Spies, Jan Frank, Locatelli dan lainnya.

Di Sumbar seni lukis pemandangan juga turut berkembang pesat, mengingat Wakidi asal Semarang kelahiran Plaju Sumatera Selatan (1879) dan lulusan sekolah guru di Bukittinggi mengajarkan murid-muridnya semasa menjadi guru gambar di INS Kayu Tanam perihal lukisan pemandangan alam. Banyak diantara murid-murid Wakidi selama hayatnya menghabiskan waktu dan berkeluarga di daerah ini, menjadi pelukis besar dalam peta seni lukis tanah air termasuk murid-muridnya disejumlah daerah, apalagi di Minangkabau.

Mamad Ridwan tidak menjadi murid yang pernah belajar langsung dengan Wakidi bahkan murid-muridnya sendiri sekalipun. Tapi setidaknya ada biasan atau bayang-bayang dan riak-riak kecil menandai sejumlah karya-karyanya yang dengan konsisten mengambil obyek-obyek pemandangan alam dimana hasil konstruksi atau susunan unsur-unsur yang baik yang diambil dari alam dengan menangkap kualitas cahaya alami, detail, rinci dan butuh skill khusus. (***)

Muharyadi, Pengamat, Kurator dan Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.