Pulau Sumatera Dalam Nafas Sketsa Body Dharma

by -
Body Dharma

Oleh Muharyadi

SEMANGATNEWS.COM, PADANG – Merekam berbagai peristiwa dengan beragam dinamikanya di banyak porovinsi di tanah air dalam bentuk visual sketsa sebagai karya seni, bukan merupakan pekerjaan gampang dilakukan. Selain diperlukan kecakapan dan keterampilan khusus berkarya sketsa, seseorang juga harus memahami berbagai hal yang dilihat, diamati, ditelusuri, dihayati bahkan diapresiasi guna direfresentasikan menjadi karya seni didukung banyak literatur yang melatarbelakanginya.

Hal itu pulalah yang dilakukan Seniman Sketsa Indonesia, Body Dharma (67 th) asal Kayu Tanam, Padangpariaman, Sumatera Barat sejak 2017 lalu yang mampu mengelilingi 19 provinsi dari 34 provinsi di tanah air saat ditemui di Galeri Sketsa Indonesia, Km 53 Kayu Tanam, PadangPariaman, Sumbar, dalam rangkaian persiapan buku sketsa karya-karyanya edisi Sumatera kamis sore 9.02.23

Sketsa edisi Sumatera ini dibagi dalam empat kelompok ; (1) Sketsa Objek bangunan-bangunan bersejarah (2) Sketsa Seni dan Budaya (3) Sketsa Pemandangan Alam dan (4) Sosial ekonomi ditengah-tengah masyarakat. Dengan rincian beberapa fase seperti : (1) Indonesia wilayah Sumatera (2) Indonesia wilayah pulau Jawa (3) Indonesia wilayah tengah dan timur yang tempuh Body Dharma.

Festival Gandang Tasa Kab. Padang Pariaman sebagai acara tahunan, tinta cina

Body Dharma memasuki sejumlah provinsi meliputi Sumatera Utara, Aceh Nangro Darussallam, Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bandar Lampung, Bangka Belitung dan Sumatera Barat sebagai buku sketsa Indonesia wilayah Sumatera.

Dari empat kelompok karya yang menarik diketengahkan Body Dharma berkolaborasi dengan suku-suku khas Sumatera seperti suku Aceh, Batak, Minangkabau, dan Melayu berisikan seperangkat nilai-nilai di dalamnya baik dilihat dari bangunan-bangunan bersejarah, Seni dan Budaya, Pemandangan Alam, dan sosial ekonomi masyarakat.

Dalam catatan kita, Body Dharma satu diantara sedikit seniman sketsa di Indonesia sejak puluhan tahun silam tetap setia merefresentasikan, memaparkan sketsa-sketsa bersumber dari berbagai peristiwa budaya melalui coretan garis-garisnya yang indah, spontan bahkan tajam. Ia juga setia mengambil obyek-obyek langsung di alam terbuka dari berbagai peristiwa unik, yang kadang luput dari perhatian publik untuk dijadikan momen penting sebagai catatan sejarah dalam ranah visual rupa.

Sakapua Siriah; Siriah carano dengan bentuk tikuluak ditinggikan dan diiringi Payuang Kabasaran

Di Indonesia tercatat beberapa seniman sketsa yang juga merangkap sebagai pelukis diantaranya ; S. Sudjojono, Ipe Mak’ruf, Nyoman Gunarsa, Widayat, Affandi, Henk Ngantung, Oesman Effendi. Nashar, Isnaeni MH, Harry Wibowo, Handoyo, Supono, Syahwil, Danarto, Body Dharma dan lainnya. Dari Eropa ada nama Henry Matisse, Edgar Degas, Kadinsky, Pablo Picasso, Vincent Van Gogh dan lainnya.

Dari sederetan nama seniman sketsa Indonesia Indonesia itu, Body Dharma, tetap setia dan konsisten berkarya sketsa untuk merekam banyak pertistiwa dan kegiatan yang diamatinya berisikan keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat, cara hidup dan cara pandang, dan kesenian di tengah-tengah masyarakat, bangunan-bangunan tua bersejarah dengan mensugesti bentuk-bentuk obyek mengandalkan kualitas garis yang selesai.

Salah satu sketsa kota Metropilitan karya Body Dharma

Di Sumatera Barat hampir semua kabupaten dan kota berisikan keanekaragaman peristiwa budaya telah dibukukan dalam buku sketsa Sawahlunto kota Budaya dan buku sketsa “Jalur Rempah” serta sederetan buku lainnya berupa “Album Minangkabau” bekerjasama dengan Beernhard Batchelet berkebangsaan Swiss (2003), kumpulan sketsa “Silungkang dalam Sketsa” disponsori H. Asril Amien (2004) kumpulan sketsa “Sawahlunto Expression in The Rhythms of Strokes” (edisi Bahasa Inggris), Paung Minangkabau didampingi 92 sketsa (2016) dan kumpulan sketsa “Sumatera Barat ” diterbitkan Dinas Pariwisata Sumbar.

Mengapa Harus dengan Sketsa

Rekaman pada karya sketsa merupakan bentuk visualisasi obyek-obyek yang tampak, bila dan bagaimana relevansi karya dengan berbagai peristiwa/aktivitas sebagai tanda, penanda bahkan rambu-rambu, dimana ia diciptakan secara rinci dan terurai. Penghayatan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu berlangsung di lokasi maupun di luar melalui aktualitas emosional pencipta dan dirasakan berdekatan dari yang sesungguhnya.

Tetapi menggambarkan suatu kota bersejarah dengan kekayaan sosial budaya maupun obyek wisata, masyarakat, pemandangan alam dan lainnya melalui sketsa sebagai simbol, merupakan sesuatu yang langka dilakukan. Menurut hemat kita mungkin Body Dharma menjadi satu-satunya seniman di Indonesia yang mampu membukukan karya-karyanya dalam ranah visual yang syarat nilai dan makna di dalamnya.

Kehadiran sketsa sering diperdebatkan menjadi karya seni secara utuh sebagai hasil akhir karya atau preambul dari sebuah lukisan. Perdebatan itu akhirnya kian redup karena makin banyaknya seniman seni rupa di tanah air membuat sketsa di luar lukisan yang ternyata mampu berdiri sendiri. Hal itu diperkuat pula dari statmen melalui pameran sketsa yang digelar di Galeri Nasional Indonesia (GNI) guna meninjau balik posisi sketsa dulu dan kini di lingkup seni rupa beberapa tahun silam.

Tarikan garis-garis sketsa Body Dharma yang lincah, spontan dan dinamis turut mendinamisasi bentuk maupun gerak di setiap obyek sketsa hingga menjadi sarana paling singkat dan abstrak untuk menggambarkan suatu obyek dari beragam peristiwa yang dapat ditelisik dalam dua hal, yakni persoalan yang tersirat maupun tersurat, karena rekaman berbagai obyek dan peristiwa melalui sketsa lebih pas dilihat dari relevansinya dengan apa yang diamati dan apa yang dikerjakannya.

Penghayatan akan beragam peristiwa melalui aktualitas dan emosionalitas refleksi jauh lebih tinggi nilainya karena diperkuat kegiatan melihat, mengamati, menalar, menyaksikan bahkan terlibat langsung di lapangan sebagaimana tercermin dari banyak obyek dan peristiwa di tanah air.

Dari berbagai obyek yang direkam di banyak tempat dan lokasi di tanah air secara sitematis, konsisten bahkan berkelanjutan diharapkan mampu membangun narasi pentingnya rekaman berbagai peristiwa di tengah-tengah masyarakatnya hingga bangsa ini tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menghargai tanah leluhurnya yang senantiasa selalu berpijak pada daerah asalnya baik dari aspek geografis, sosiokultural, religi, etis dan estetis. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.