SEMANGATNEWS.COM, PADANG PANJANG – Pelukis Syifa Ramadhani (21 th) sejak tiga tahun terakhir saat mulai menimba ilmu di Iinstitut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang merupakan salah satu sosok wanita muda yang tetap eksis berkarya, berpameran dan berkarya melahirkan dan merealisasikan konsep lukisannya dengan mengekspresikannya dalam karya seni lebih indah bahkan unik.
Dan, apa yang dilakukan Syifa Ramadhani itu tentu tidak lepas dari hasil pengamatan serta adanya interaksi dengan lingkungan sekitar berbekal pengalaman untuk menciptakan karya seni lukis yang baik kalau tidak bisa disebut sempurna.

Seperti yang dilakukan pelukis wanita muda Syifa Rahmadhani (21 th) terhadap sejumlah karya-karya yang dibuatnya saat saat dihubungi semangatnews.com di kediamannya, Jalan Dr. A. Rivai Padangpanjang, Sumatera Barat, Kamis (12/04/23).
Menurut Syifa Ramadhani berkarya seni rupa seperti melukis sebagai manusia pada dasarnya kita tentunya suka akan suatu hal yang indah dan unik. Bahkan sampi mengagumi sesuatu yang ada di alam sekitar, secara tidak langsung atau pun langsung. Keindahan dan keunikan itu dapat menimbulkan rasa senang, sedih, bahagia dan haru. Hal itu pulalah yang saya tangkap untuk kemudian dierefresebtrasikan kepermukaan menjadi karta.
Dalam catatan kita di Indonesia, apalagi di Sumatera Barat jumlah pelukis wanita yang tetap eksis berkarya dan berpameran bisa dihitung dengan jari. Meski demikian, dari yang sedikit itu sebagian besar diantaranya tetap saja melahirkan karya-karya terbaik untuk publik, berpameran dan berkarya lagi.

Dalam berkarya seni rupa seperti seni lukis, sama seperti pelukis kalangan lelaki banyak pula cara dilakukan pelukis wanita untuk mengangkat berbagai persoalan dan dimanika yang dilihat, diamati atau dihayati secacara langsung maupun imajinatif kepermukaan guna menjadi karya yang bukan hanya menarik untuk dilihat tetapi juga untuk ditelusuri.
Pada karya Syifa Rahmadhani yang saat ini tercatat sebagai mahasiswi ISI (Institut Seni Indonesia) Padangpanjang, kita mengamati hal yang aneh-aneh, kadang penuh khayalan bahkan sensasi. Bahkan diamati secara teliti lebih jauh dan lebih dalam, terasa karyanya seakan kita digiring ke alam dunia mimpi. Dalam dunia seni lukis kerja seperti ini kerap disebut karya yang tidak logis atau bersifat khayalan.
Lihat salah satu karyanya berjudul “Pulang”, 66 x 60 cm, digital mixed media, 2022 terlihat erat sekali hubungannya dengan dunia fantasi. Dua sosok manusia yang sedang berpelukan dengan karakter obyek seperti boneka larut dalam kesedihan ditandai air mata meleleh dilatarbelakangi gunung dan pohon sebagai bahasa isyarat mengajak pulang.
Begitu juga dengan karya terbarunya berjudul “Sepasang Daun”, cat minyak, dimension variable, 2023 terlihat begitu memesona mata pada goresan kuas yang tetata apik. Syifa diakui sering berfantasi dengan obyek-obyek yang dikerjakan secara rinci. Dunia remaja Syifa masih kental mewarnai setiap yang diusung kepermukaan.
Karya ini lahir bukan tanpa alasan, karena berkaitan dengan isu kekinian baik dilihat dari perspektif ekonomi, sosial budaya yang kini tengah melingkari masalah kehidupan manusia sehari hari di sekitar kita, ujar Syifa Rahmadhani memberi argumentasi karyanya.
Karena membuat lukisan dilandasi banyak pertimbangan, bukan hanya indah dan menarik untuk diamati, tapi juga perlu memikirkan pesan dan makna-makna yang muncul kemudian tanpa kehilangan nilai keindahannya sesuai ilmu yang saya peroleh baik di kampus maupun di luar kampus selama ini, jelas Syifa.
Selain terbilang aktif berpameran Syifa kerap menjuarai bamacam lomba seni, diantaranya pernah juara dua lomba lukis Peksimida Sumbar bulan september tahun lalu, juara lomba sayembara Desain Livery Lokomotif dan Keretaapi HUT PT Keretapi Indonesia (KAI) Sumbar, Lomba Desain Mural “Pandemic and Sociality”, Lomba Mural “KAI Milenial Mural Art dan sederetan kegiatan lainya ujar Syifa menguraikan. (Muharyadi)
