Ziarah Kubur Untuk Stimulus Spritual

by -

Oleh : Ridwan Syarif

SEMANGATNEWS.COM, DHARMASRAYA – Ziarah kubur sudah menjadi sebuah tradisi di tengah masyarakat Islam, masyarakat kita sejak dulu, terutama setiap memasuki momen bulan Ramadhan dan saat merayakan Idul Fitri seperti saat ini.

Dalam sebuah haditsnya Baginda Rasulullah SAW menyebutkan,

“Berziarah kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Dari banyak literatur, ziarah kubur mendatangkan banyak manfaat, khusus bagi peziarah ini bisa dijadikan momen introspeksi jelang kita di usung di antar pulang ke kuburan.

Kelak suatu ketika kita juga akan menyusul seperti halnya mereka, mungkin saja nenek, kakek, ayah ibu, sanak saudara atau boleh jadi anak atau orang tersayang lainnya yang saat ini kita sedang berada di samping pusara mereka. Entah kondisi apa yang sedang mereka hadapi saat ini. Semoga Allah SWT tempatkan seluruh keluarga kita yang terdahulu di sisi yang di ridho Nya.

Saat orang-orang usai memadati tanah timbunan, mereka akan pergi, tinggalkan kita sendirian dalam sepi, gelap dan terasing, tertimbun setidaknya 1,5 – 2 meter dari permukaan tanah.
Semua yang hadir pulang, mereka hanya mengantarkan, tidak satupun di antara mereka yang tinggal.

Ziarah, seyogyanya senantiasa mampu menstimulus kesadaran spritual, yang pada akhirnya berusaha melatih hidup untuk bisa lebih baik. Merenungi situasi demikian, semoga menambah kesadaran dan keyakinan, kuburan adalah fase pertama tempat menjalani hari-hari berikut jelang kiamat tiba.

Kuburan adalah rumah singgah sebelum diri ini betul-betul akan dibangkitkan, untuk melanjutkan perjalanan menuju pintu surga atau neraka.

Dalam sebuah kisah, Khalifah Utsman bin Affan berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis hingga jenggotnya sampai basah. Lalu beliau ditanya oleh budaknya,

“Engkau tidak menangis saat mengingat surga dan neraka, tapi kenapa saat mengingat kubur, engkau menangis” ?

Utsman menjawab, ‘”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, bahwa kubur adalah rumah akhirat pertama. Bila selamat di kubur, maka setelahnya menjadi mudah. Bila tidak, maka selanjutnya akan menjadi lebih sulit. Aku mendengar ucapan Rasulullah, “Aku tidak melihat satu pemandangan pun yang lebih menakutkan dari kuburan.” (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)

Di sisi lain, ziarah selain “wasilah” jalan membangun spritualitas, dapat juga sebagai sarana edukasi untuk mengenali silsilah keluarga dan keturunan. Terlebih apabila pemakaman berada dalam satu lokasi yang berdampingan.

Barangkali yang selama ini terabaikan akibat kesibukan, lewat ziarah akan bisa terungkap hubungan satu sama lain. Melalui ziarah relasi sosial dan ikatan kefamilian antara yang satu dengan yang lain semakin erat.

Ternyata, mungkin kita disatukan oleh garis keturunan yang entah berapa generasi di atasnya, atau sebaliknya. Generasi yang akan datang bakal paham kalau dirinya adalah bagian dari keluarga besar itu.

Mesti disadari, kalau saat ini banyak di antara kita yang tidak memahami silsilah beberapa generasi di atas kita, paling hanya dua sampai tiga. Amat jarang yang akan memahami hingga empat sampai lima generasi di atas kita, apalagi sampai tujuh keturunan. Padahal, bisa jadi satu di antaranya anggota keluarga nya adalah tokoh yang begitu berpengaruh dan terpandang di zamannya.

Di luar itu, saat berziarah jangan lupa mendo’akan ahli kubur, karena menurut banyak ulama, dengan do’a yang dimohonkan bakal dapat membahagiakan dan meringankan penderitaan yang sedang dialami oleh ahli kubur.

“Tiadalah seseorang yang menziarahi kubur saudaranya seraya duduk di dekat kuburannya itu, melainkan penghuni kubur akan merasa senang kepadanya sehingga orang itu beranjak pergi dari kuburnya.” (HR. Abu Daud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.