Jakarta, Semangatnews.com – Evakuasi terhadap korban runtuhan musala Ponpes Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo berjalan bak perlombaan dengan waktu. Tim SAR gabungan kini berupaya keras mengejar golden time 72 jam agar harapan menyelamatkan korban yang masih hidup tak pupus.
Hingga hari ketiga, tim telah mendeteksi 15 titik lokasi korban yang masih tertimbun. Dari titik tersebut, sekitar 7 titik menunjukkan respons dari korban, sementara sisanya berstatus zona “hitam” atau kemungkinan sudah tak bernyawa.
Salah satu korban yang sempat tertimbun, Haikal, berhasil dievakuasi dan kini dirawat di RSUD Sidoarjo. Sayangnya, dalam operasi itu juga ditemukan satu jenazah lainnya.
Para orang tua dan wali santri terus memantau proses evakuasi dengan penuh kegelisahan. Ada yang mendesak agar alat berat segera digunakan agar proses pemindahan puing bisa lebih cepat, mengingat kondisi reruntuhan yang makin rapuh dan atmosfer mulai menyengat.
Namun, tim SAR memutuskan tidak memakai alat berat seperti crane karena dikhawatirkan memicu runtuhan susulan yang dapat membahayakan korban dan petugas di bawah. Mereka memilih metode manual atau “shifting / rolling” agar proses evakuasi tetap aman.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, turut hadir untuk memberikan kekuatan moral kepada keluarga korban. Ia menyampaikan simpati dan mendoakan agar yang masih tertimbun segera ditemukan dalam kondisi baik.
Kedatangan Eri juga mengundang simpati publik. Di rumah duka santri asal Surabaya, ia berbicara langsung dengan orang tua korban dan menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi masa sulit ini.
Meski pengawasan dan koordinasi berjalan, tantangan di lapangan masih besar. Struktur reruntuhan yang tidak stabil dan posisi korban yang tersembunyi membuat upaya evakuasi semakin kompleks dan rawan.
Pada sisi lain, pihak pesantren dan pemerintah daerah telah menyampaikan bahwa perencanaan peninjauan ulang konstruksi bangunan pondok akan dilakukan. Insiden ini juga menjadi pelajaran penting untuk standar bangunan sarana pendidikan keagamaan agar lebih aman.
Saat ini, masyarakat dihimbau tetap tenang dan mendukung upaya evakuasi lewat doa dan kedisiplinan informasi. Prioritas utama tetap pada keselamatan korban yang masih tertimbun, sementara pemulihan dan evaluasi sistem akan menyusul usai proses penyelamatan berakhir.(*)
