Israel Abaikan Trump, Serangan di Gaza Terus Meski Hamas Buka Peluang Perdamaian

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Hamas mengejutkan dunia ketika menyatakan kesiapan untuk berdamai dengan Israel, membuka pintu dialog yang selama ini terasa tertutup rapat. Pernyataan ini diharapkan bisa menjadi titik balik menuju penghentian kekerasan.

Namun kenyataan di lapangan berbeda jauh: pesawat tempur Israel tetap membombardir Gaza, menebar kehancuran di wilayah pemukiman sipil dan fasilitas umum. Bom terus menggema malam dan siang, mengoyak harapan rakyat yang ingin damai.

Beberapa analisis menyebut keputusan Israel untuk tetap menggempur didasari perhitungan strategis: bahwa ancaman keamanan belum usai dan bahwa tekanan diplomatik belum cukup kuat untuk menghentikan aksi militer.

Pernyataan Presiden Trump untuk mendorong Israel menghentikan serangan demi memberi ruang dialog ternyata tak menggugah komando militer Israel. Serangan udara tetap digelar, menargetkan lokasi yang diklaim sebagai pangkalan militer Hamas atau gudang senjata.

Warga Gaza, yang kerap menjadi korban collateral damage, kini hidup dalam teror tanpa henti. Jalanan rusak, listrik padam, dan suplai air bersih makin langka. Rasa takut tak pernah jauh dari setiap langkah mereka.

Rasa keputusasaan makin menebal ketika rumah sakit-rumah sakit kewalahan menampung korban luka. Bayi, lansia, dan anak-anak jadi korban paling rentan. Kekurangan obat dan peralatan medis semakin memperburuk kondisi medis.

Di panggung global, protes dan kecaman muncul dari berbagai negara dan organisasi kemanusiaan. Permohonan agar Israel menahan diri makin keras, hadir dorongan agar Hamas dan Israel kembali ke meja perundingan.

Namun bagi banyak warga Gaza, perang itu nyata dan dialog terasa jauh. Mereka mendukung langkah perdamaian Hamas, tetapi serangan udara yang terus berlangsung makin membatasi ruang hidup dan bergerak mereka.

Bagi Israel, menghentikan serangan tanpa kepastian membawa risiko keamanan. Bagi Hamas dan rakyat Gaza, perang terus menelan korban sekaligus menyediakan momentum agar perlawanan dan diplomasi berjalan bersamaan.

Konflik terus bergulir: satu pihak mengumbar niat damai, pihak lain mempertahankan kekuatan militer. Di tengah bom, puing, dan air mata, apakah dialog bisa menjadi peluru pengganti senjata? Atau akankah perang menentukan siapa yang menulis narasi berikutnya?(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.