Jakarta, Semangatnews.com – Beberapa jam setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, terlihat serangan udara Israel kembali menghantam kawasan Gaza. Insiden ini menyebabkan sedikitnya 30 warga sipil tewas dalam waktu singkat.
Menurut laporan dari otoritas kesehatan Gaza, korban tewas bertambah dari waktu ke waktu, dengan sebagian besar berasal dari daerah pemukiman padat penduduk. Banyak rumah hancur dan warga terluka parah.
Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata tersebut diumumkan sebagai babak awal dalam rencana perdamaian. Namun kenyataan bahwa serangan masih berlanjut memicu keraguan publik atas komitmen pihak Israel terhadap kesepakatan.
Ledakan terdengar di sejumlah kawasan, khususnya di bagian tengah dan utara Gaza. Warga yang panik melarikan diri ke tempat perlindungan atau rumah kerabat yang relatif aman.
Situasi di Gaza sendiri sudah sangat rentan: rumah hancur, listrik padam, fasilitas kesehatan terbatas. Setiap serangan baru memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah sangat parah.
Banyak warga yang selama ini tinggal di tenda pengungsian menggigil menahan trauma. Beberapa di antara mereka bahkan bingung: apakah masih aman tinggal di tempat perlindungan itu?
Pihak pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan itu sebagian besar diarahkan terhadap target militer Hamas. Namun beberapa laporan medik dan penduduk menuduh adanya “bom lezat” yang dimasukkan dekat rumah warga sipil.
Analisis lapangan menunjukkan bahwa meskipun komitmen gencatan senjata sudah diumumkan, pergeseran taktis dan komunikasi militer belum sepenuhnya sinkron. Beberapa unit mungkin belum mendapat instruksi jelas untuk berhenti serangan.
Kelompok-kelompok kemanusiaan mengecam tindakan militer pasca gencatan. Mereka menyebutnya pelanggaran serius terhadap hak warga sipil dan memperingatkan bahwa perdamaian tak akan berarti apa-apa jika nyawa masih tertelan tiap menitnya.
Di media sosial Gaza, netizen memposting video ledakan dan reruntuhan baru. Caption mereka penuh keputusasaan: “Gencatan senjata? Masih bom tiap detik.”
Pihak mediator luar negeri — termasuk Mesir, Qatar, dan PBB — langsung menyatakan kecaman dan mendesak Israel untuk menghentikan serangannya segera. Mereka menyebut bahwa keberlangsungan perdamaian tergantung pada implementasi nyata, bukan sekadar pengumuman.
Bagi warga Gaza, momen gencatan senjata kini terasa hampa. Harapan akan jeda konflik sirna ketika bom masih jatuh di sekitar tempat tinggal mereka.
Akhirnya, dunia kini menantikan respons keras dari negara-negara penengah. Apakah Israel akan dihukum diplomatik jika terus ingkar janji? Harapan warga Gaza kini terletak pada tindakan nyata — bukan kata-kata.(*)
