Jakarta, Semangatnews.com – Menteri Luar Negeri Sugiono akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait viral-nya video percakapan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump yang terekam oleh mikrofon. Sugiono menyebut bahwa obrolan semacam itu bisa saja merupakan pembicaraan pribadi di luar konteks formal kenegaraan. Ia menegaskan bahwa ia belum mengetahui isi pasti pembicaraan karena Presiden sering berdialog secara informal dengan pemimpin negara lain.
Sugiono menuturkan bahwa hubungan antarpemimpin sering diwarnai pertemuan di sela-sela agenda konferensi, menunggu sesi, atau diskusi bilateral informal. “Biasa kan, Pak Presiden berbicara dengan kepala negara lain berdua-berdua,” ujar Sugiono, menegaskan bahwa kedekatan relasional di antara pemimpin tak selalu bermuatan substansi resmi.
Terkait video tersebut, Sugiono menyebut bahwa jika memang terdapat pokok pembahasan penting yang memerlukan tindak lanjut, Presiden akan menginstruksikannya melalui jalur resmi. Namun sejauh ini, ia belum menerima petunjuk atau arahan untuk menanggapi lebih lanjut dari pihak Istana.
Video tersebut menunjukkan Prabowo berbicara kepada Trump mengenai permintaan untuk bertemu putra Trump, Eric, dan menyebut alternatif “Eric atau Don Jr.”. Karena mikrofon belum dimatikan, percakapan itu tertangkap publik, memicu beragam spekulasi tentang maksud di balik permintaan tersebut.
Menlu juga menyinggung bahwa Presiden sering mengobrol dengan banyak kepala negara saat menunggu di ruang tunggu konferensi. Ia menganggap bahwa dalam suasana tersebut, pembicaraan bisa bersifat personal atau persiapan agenda diplomasi, yang tidak selalu dalam kapasitas resmi pemerintah.
Dalam kesempatan yang sama, Sugiono juga menanggapi klaim media asing bahwa Prabowo akan melakukan kunjungan ke Israel setelah dari Mesir. Ia membantah keras kabar tersebut, menyatakan bahwa tidak ada rencana seperti itu sejak awal. “Tidak,” ujarnya tegas, menegaskan bahwa agenda Presiden adalah kembali ke Tanah Air usai konferensi di Mesir selesai.
Menurut Menlu, rencana perjalanan Presiden sudah jelas dan terbatas pada kehadiran di KTT Perdamaian Gaza serta agenda resmi negara tuan rumah. Tidak ada agendanya untuk mampir atau berkunjung ke Israel, dan laporan media asing dianggap tidak berdasar.
Sugiono juga membantah narasi bahwa Prabowo marah atau membatalkan rencana karena pemberitaan media Israel. Ia menyebut bahwa Presiden lebih fokus menyelesaikan agenda penandatanganan perjanjian damai di Gaza, dan tidak terlibat dalam reaksi emosional terhadap pemberitaan luar negeri.
Kementerian Luar Negeri bersama tim protokol memastikan bahwa gerak diplomasi Indonesia tetap transparan, dan jika ada pertemuan bilateral tambahan yang perlu diwujudkan, akan diumumkan secara formal. Namun sejauh ini belum ada informasi resmi terkait permintaan pertemuan khusus antara Prabowo dan Eric Trump.
Reaksi publik terhadap klarifikasi Menlu cukup variatif. Sebagian menghargai keterbukaan pemerintah dalam menjawab isu sensitif, namun sebagian lain tetap menuntut agar klarifikasi lebih terperinci: siapa “Eric atau Don Jr.” yang dimaksud, isu apa yang hendak dibahas, dan apakah ada agenda bisnis di balik itu.
Di panggung diplomasi internasional, momentum ini menjadi bahan refleksi atas transparansi komunikasi antarpemimpin. Bahwa setiap interaksi — bahkan yang informal — bisa terbuka bagi publik dan memicu pertimbangan diplomatik. Indonesia kini dituntut mempertahankan keseimbangan antara diplomasi aktif dan keterbukaan publik.
Dengan respons Menlu dan bantahan tegas bahwa tidak ada rencana kunjungan ke Israel, pemerintah berupaya meredam spekulasi dan menjaga kewibawaan diplomasi Indonesia. Publik kini menunggu apakah akan ada pernyataan lanjutan dari Presiden atau Istana mengenai isu pertemuan dan arah diplomasi selanjutnya.(*)
