Jakarta, Semangatnews.com – Penelitian terbaru mengungkap bahwa prevalensi diabetes pada pekerja perkotaan Indonesia kini semakin mengkhawatirkan. Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sekitar 9,3 persen pekerja berusia 15–64 tahun di kota besar diketahui mengalami diabetes.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa penyakit kronis seperti diabetes tidak hanya menyerang orang lanjut usia atau pensiunan, melainkan juga mereka yang masih dalam usia produktif dan menjajaki karier. Kondisi ini menjadi alarm bagi pengambil kebijakan dan pelaku dunia kerja.
Dari aspek demografi, sebagian besar pekerja yang menjadi sampel penelitian adalah laki-laki (69,5 persen), bekerja di sektor nonformal (60,4 persen), dan berpendidikan rendah (68,4 persen). Pekerja usia 35–54 tahun menjadi kelompok dengan insidensi tertinggi.
Hipertensi dan obesitas sentral muncul sebagai faktor risiko signifikan. Sekitar 36,1 persen pekerja menderita hipertensi, sementara 29,2 persen mengalami obesitas perut. Individu yang memiliki kedua kondisi tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi diabetes dibanding rekan kerja yang sehat.
Menariknya, meski 77,5 persen pekerja melaporkan aktivitas fisik yang cukup, hampir 95,1 persen tidak mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah yang disarankan. Pola makan tak sehat, konsumsi makanan cepat saji dan kurangnya asupan serat menjadi faktor penyerta.
Kondisi kerja di lingkungan perkotaan juga menyulitkan upaya gaya hidup sehat: jam kerja panjang, stres tinggi, dan tekanan pekerjaan membuat banyak pekerja mengorbankan pola makan dan olahraga rutin.
Obesitas pada pekerja terbukti sangat berkorelasi dengan risiko diabetes. Penelitian lain menunjukkan bahwa pegawai dengan obesitas memiliki risiko sekitar 4 kali lipat dibandingkan yang berat badannya normal. Stres kerja juga disebut sebagai salah satu pemicu meningkatnya kadar gula darah.
Dampak dari prevalensi diabetes pada pekerja tidak bisa dipandang sebelah mata. Diabetes bisa menyebabkan komplikasi jantung, ginjal, kebutaan, bahkan amputasi, yang tentu akan mengganggu produktivitas dan kualitas hidup.
Untuk menghadapi tren ini, pengusaha dan institusi harus berperan aktif. Kantor dapat menyediakan program kesehatan, ruang olahraga, menu makanan sehat di kantin, serta pemeriksaan kesehatan berkala bagi karyawan.
Sementara itu, pekerja sendiri didorong melakukan kontrol kesehatan secara rutin, memperbaiki asupan makanan, dan mengatur aktivitas fisik minimal 30 menit sehari agar risiko diabetes dapat ditekan.
Pemerintah dan instansi kesehatan pun harus memperkuat regulasi serta kampanye edukasi tentang penyakit tidak menular (PTM). Penekanan tidak hanya ke pengobatan, tetapi ke pencegahan sejak dini, terutama bagi kelompok pekerja produktif.
Ketika diabetes sudah mulai menyerang usia produktif di kota besar, maka paradigma bahwa penyakit ini hanya milik kelompok lanjut usia harus diubah. Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan agar generasi pekerja tetap sehat dan produktif.(*)
