Jakarta, Semangatnews.com – Serangan udara Israel kembali menyasar wilayah Yaman dan menewaskan seorang panglima militer Houthi, bernama Al-Ghamari. Kabar kematiannya langsung memicu sumpah balas dari kelompok militan di Yaman, yang menyatakan tidak akan tinggal diam atas aksi agresi tersebut.
Menurut laporan otoritas keamanan Yaman, serangan ini terjadi pada dini hari, menargetkan konvoi militer di wilayah barat daya negara tersebut. Ledakan dahsyat mengguncang area sasaran dan mengakibatkan kerusakan sejumlah kendaraan serta korban sipil di sekitar lokasi.
Beberapa sumber dalam medium militer Houthi menyebut bahwa Al-Ghamari adalah figur sentral dalam strategi pertahanan dan operasi darat mereka. Kematian sang panglima dipandang sebagai pukulan besar terhadap struktur komando gerakan Houthi.
Tak lama setelah kabar kematian menyebar, juru bicara Houthi menegaskan bahwa pihaknya akan menindak Israel “dengan kekuatan penuh”. Pernyataan itu muncul dalam pidato berapi-api yang disiarkan melalui media lokal Yaman.
“Kematian Al-Ghamari bukanlah akhir, melainkan awal pembalasan,” demikian kata juru bicara tersebut. Houthi menegaskan bahwa mereka akan menargetkan instalasi strategis Israel dan sekutunya sebagai respons langsung.
Pejabat Yaman menyebut bahwa selain Al-Ghamari, beberapa perwira militer dan petugas keamanan juga tewas dalam serangan tersebut. Beberapa kendaraan lapis baja hangus terbakar di lokasi, menambah skala kerusakan yang ditimbulkan.
Israel hingga kini belum mengeluarkan konfirmasi resmi mengenai keterlibatannya atau rincian operasi yang menewaskan panglima Houthi. Pihak militer Israel umumnya enggan menanggapi tudingan langsung dalam konflik luar negeri.
Beberapa analis regional menilai bahwa serangan ini menunjukkan eskalasi agresivitas Israel terhadap target non-konvensional. Serangan ke Yaman, yang bukan medan konflik langsung antara Israel dan Zahra, dianggap bagian dari perluasan strategi keamanan Israel.
Namun, sejumlah pengamat memperingatkan risiko perang terbuka lintas negara. Yaman secara geografis terpisah jauh dari Israel, dan respons keras dari Houthi bisa meruncingkan ketegangan di kawasan Teluk dan Laut Merah.
Keluarga Al-Ghamari dan pendukung Houthi di Yaman menyebut momen duka sebagai panggilan jihad. Mereka memobilisasi massa untuk shalat ghaib dan aksi protes terhadap Israel di wilayah yang terkendali oleh Houthi.
Sementara itu, komunitas internasional memperingatkan agar eskalasi tak terbendung meledak menjadi konflik luas. Beberapa negara Arab dan organisasi PBB mendesak supaya jalur diplomasi tetap dibuka untuk menghentikan siklus balas dendam.
Dalam suasana penuh kecemasan, publik dunia kini menanti apakah Houthi benar-benar mengeksekusi ancamannya dan bagaimana Israel akan merespons. Kelanjutan konflik ini akan menjadi penanda baru dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.(*)

