Tentara Israel Ungkap Hamas Sediakan Taurat & Alat Ibadah Saat Disandera

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Seorang tentara Israel bernama Matan Angrest mengungkap kisahnya selama menjadi sandera Hamas, termasuk permintaannya terhadap Taurat dan perlengkapan ibadah Yahudi yang kemudian dipenuhi oleh kelompok tersebut. Ia menyebut bahwa meskipun berada dalam kondisi terkungkung, Hamas tidak menolak permohonannya untuk beribadah sesuai keyakinan.

Angrest menjelaskan bahwa ia secara rutin melaksanakan doa tiga kali sehari selama berada dalam tahanan, menggunakan kitab Taurat serta alat ibadah seperti tefillin dan siddur yang disediakan atas permintaannya. Ia mengungkap bahwa Hamas menyediakan barang tersebut agar hak keagamaan tetap dihormati walau di tengah konflik.

Dia menyebut bahwa selama dalam terowongan tempat penahanannya, ia berupaya menjaga semangat keagamaan sebagai bentuk penopang mental dan kebutuhan spiritual. “Saya berusaha tetap beribadah agar tetap tegar,” ungkapnya dalam wawancara setelah pembebasannya.

Menurut Angrest, meskipun area penahanannya sering diliputi ketegangan dan risiko serangan udara, Hamas tetap memberi kesempatan padanya menjalankan ibadah secara rutin. Hal ini dianggapnya sebagai bentuk perlakuan “berbeda” dibanding penahanan biasa.

Namun demikian, kesaksian tersebut kontras dengan banyak laporan HAM yang menyebut bahwa tahanan konflik di belahan dunia lain sering mengalami perlakuan buruk, minim akses ibadah, penyiksaan, dan perlakuan medis yang buruk. Klaim Hamas dalam kasus ini menjadi poin diskusi baru dalam konflik Israel-Palestina.

Beberapa analis menyebut bahwa tindakan Hamas menyediakan kitab suci dan alat ibadah bisa dimainkan sebagai strategi propaganda untuk menunjukkan citra “toleran dalam konflik”, sekaligus menyanggah tuduhan pelanggaran hak dasar. Tetapi efektivitasnya tergantung verifikasi independen.

Di pihak lain, Israel menyambut kesaksian Angrest, mengklaim bahwa bukti semacam ini menunjukkan bahwa mereka akan tetap memperjuangkan nasib sandera secara terbuka dan transparan. Namun pihak militer belum merilis pernyataan resmi terkait kondisi persis selama tahanan.

Para pengamat menyoroti bahwa konteks konflik sering diwarnai narasi media, propaganda, dan klaim yang saling bertentangan. Kesaksian individu seperti Angrest bisa memperkuat satu sisi, tetapi perlu diverifikasi oleh pihak independen agar tidak sekadar alat politik.

Keluarga sandera Israel berharap bahwa kisah ini bisa memperbesar tekanan diplomatik agar proses tukar sandera di masa depan dihormati sesuai standar kemanusiaan internasional. Mereka menilai bahwa perlakuan terhadap tahanan tidak boleh dipakai sebagai alat tawar tanpa konsekuensi moral.

Sementara itu, kelompok-kelompok hak asasi masyarakat sipil menyerukan agar PBB atau lembaga internasional mengirim tim verifikasi independen untuk menilai sendiri kondisi tahanan dan memastikan bahwa hak ibadah, makanan, keamanan, dan perlakuan medis benar-benar dihormati di kedua pihak.

Publik di Israel dan Palestina kini menanggapi kesaksian Angrest dengan beragam reaksi: sebagian melihatnya sebagai bukti keramahan dari pihak musuh terhadap tahanan, sementara lainnya menyikapinya sebagai rangkaian propaganda konflik.

Di tengah klaim dan konfrontasi, kisah seorang sandera yang bisa berdoa dengan kitab suci di tangan memberi sudut pandang manusiawi dalam perang yang sarat narasi kekuasaan. Apakah ini ukuran kemanusiaan dalam peperangan atau bagian dari strategi naratif — waktu dan investigasi independen akan memberikan jawaban.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.