Transformasi Digital di Sawah Ikan: IoT Dorong Produksi Nila Sukabumi Melesat 40 %

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Di tengah upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan, teknologi digital akhirnya merambah dunia perikanan. Di Kabupaten Sukabumi, pemanfaatan perangkat IoT Microbubble Aerator terbukti meningkatkan produksi ikan nila hingga sekitar 40 persen.

Program ini dijalankan melalui skema Fasilitasi Pemanfaatan Teknologi Digital Sektor Perikanan Budidaya, di mana sebanyak 60 perangkat IoT dibagikan kepada 8 kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) yang tersebar di delapan desa dan empat kecamatan di Kabupaten Sukabumi.

Alat Microbubble Aerator ini bekerja dengan menghasilkan gelembung mikro dalam kolam sehingga kadar oksigen terlarut meningkat secara signifikan. Sensor yang terhubung ke sistem IoT secara real time mengirimkan data kondisi kolam—seperti suhu, pH, dan kadar oksigen—ke aplikasi di ponsel pembudidaya.

Dengan data tersebut, alat bisa diatur otomatis agar segera menyalurkan gelembung mikro jika kadar oksigen menurun. Sistem ini memungkinkan pembudidaya tak lagi harus mengawasi kolam 24 jam penuh secara manual.

Salah satu dampak nyata: selain produksi meningkat, pembudidaya melaporkan penggunaan listrik untuk aerasi turun hingga 40 persen, sebab sistem otomatis lebih efisien dibandingkan kincir air tradisional.

Menteri Komunikasi dan Digital menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud digitalisasi yang “turun ke lapangan” dan menyentuh langsung masyarakat, bukan hanya wacana teknologi di kota besar. Program ini juga menjadi bagian dari strategi nasional dalam mendukung ketahanan pangan.

Kolaborasi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan. Program ini digagas bersama antara Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Kelautan dan Perikanan, pemerintah daerah, serta startup lokal yang menyediakan aplikasi dan alat IoT.

Para pembudidaya menyambut baik inovasi ini. Beberapa dari mereka menyebut bahwa dulu sering mengalami gagal panen ketika kualitas air tiba-tiba memburuk. Kini, dengan pemantauan real time, mereka bisa merespons lebih cepat.

Di Kecamatan Cicantayan misalnya, petani ikan menyebut bahwa sebelumnya mereka hanya bisa memanen tiga kali dalam setahun. Setelah implementasi IoT, frekuensi panen bisa naik menjadi empat kali setahun.

Kendala tak sepenuhnya hilang. Beberapa daerah dengan sinyal internet lemah mengalami lambatnya respons sistem. Oleh karena itu, penyediaan konektivitas menjadi aspek penting agar sistem IoT berjalan optimal.

Pemerintah daerah berjanji mendukung dengan memperkuat jaringan internet di daerah pedesaan dan memperluas pelatihan penggunaan perangkat kepada pembudidaya pemula agar adaptasi berjalan mulus.

Dengan lonjakan produksi, efisiensi biaya, dan inovasi yang diterima di lapangan, transformasi perikanan berbasis IoT di Sukabumi bisa jadi blueprint untuk daerah lain di Indonesia yang ingin menggabungkan teknologi dan pangan rakyat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.