Jakarta, Semangatnews.com – Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan kemajuan signifikan dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Berdasarkan survei Litbang Kompas, sebanyak 77 persen masyarakat menilai kebijakan pemerintah yang menaikkan harga gabah telah berdampak positif terhadap kesejahteraan petani.
Kenaikan harga gabah yang kini ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi petani dan menjaga stabilitas pasokan beras nasional. Data menunjukkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai angka 124,36—tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah juga menargetkan pengadaan beras sebesar 3 juta ton untuk memperkuat cadangan pangan nasional. Upaya ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani di tingkat hulu melalui harga jual yang lebih adil dan stabil.
Kebijakan ini disambut positif oleh berbagai pihak, termasuk DPR yang mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. DPR menilai bahwa peningkatan harga gabah adalah bentuk keberpihakan nyata terhadap petani Indonesia.
Pemerintah menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan juga strategi jangka panjang untuk membangun kemandirian pangan nasional. Dengan kesejahteraan petani yang meningkat, ketergantungan terhadap impor beras diharapkan terus menurun.
Selain menetapkan harga gabah, pemerintah juga memperkuat sistem distribusi pangan melalui digitalisasi dan optimalisasi peran Badan Pangan Nasional (Bapanas). Hal ini dilakukan untuk memastikan pasokan beras dari petani dapat terserap dengan baik dan harga di pasaran tetap terkendali.
Di lapangan, para petani mulai merasakan dampak langsung kebijakan ini. Harga jual gabah yang lebih tinggi memberikan keuntungan lebih besar, sehingga mereka mampu meningkatkan kualitas hidup serta mengembangkan kembali lahan pertanian yang sempat terbengkalai.
Kementerian Pertanian turut melaporkan peningkatan produktivitas di beberapa daerah sentra padi seperti Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Program pendampingan dan bantuan alat pertanian modern turut mempercepat peningkatan hasil panen.
Dengan capaian ini, Indonesia semakin optimistis dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global. Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga kesejahteraan petani agar mereka tetap menjadi tulang punggung kedaulatan pangan nasional.
Kebijakan Prabowo-Gibran di sektor pangan menjadi bukti bahwa kesejahteraan petani tidak hanya wacana, melainkan hasil nyata dari kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.(*)
