Jakarta, Semangatnews.com – Memasuki momentum penting menjelang KTT ASEAN 2025, dua negara di belahan selatan dunia yaitu Indonesia dan Brasil semakin mempertegas kerja sama ekonomi yang lebih luas dan strategis. Dalam suatu pertemuan tingkat tinggi, Presiden Indonesia Prabowo Subianto bersama Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menandatangani serangkaian nota kesepahaman yang mencakup berbagai sektor mulai dari minyak dan gas, listrik, teknologi, hingga pertanian.
Presiden Lula menyatakan keprihatinannya terhadap angka perdagangan bilateral yang dinilainya masih rendah mengingat potensi besar kedua negara. Ia menilai, dengan populasi gabungan hampir 500 juta jiwa, nilai perdagangan sebesar 6 miliar dolar AS belum mencerminkan potensi sebenarnya yang bisa diraih Indonesia dan Brasil.
Di sisi lain, Presiden Prabowo menegaskan komitmen untuk mengubah kemitraan ini menjadi kekuatan pertumbuhan yang lebih konkret. Ia menggambarkan hubungan Indonesia–Brasil sebagai “dua kekuatan ekonomi baru yang sedang naik” yang memiliki tanggung jawab bersama untuk meningkatkan perdagangan antar kawasan.
Dalam cetak biru yang diwacanakan, Indonesia dan Brasil menargetkan pembicaraan menuju perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan blok Mercosur—yang di dalamnya Brasil adalah anggota utama. Langkah ini muncul di tengah dorongan Indonesia untuk memperluas hubungan ekonomi ke Amerika Selatan setelah kesepakatan dengan Peru sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa dari Januari hingga Agustus, total perdagangan bilateral kedua negara baru mencapai 4,3 miliar dolar AS. Angka ini menjadi bukti bahwa potensi yang belum tergali masih sangat besar.
Agenda ini juga mendapat momentum tambahan karena kehadiran Brasil dalam KTT ASEAN, menandakan bahwa kawasan Asia Tenggara bukan hanya arena diplomasi regional tetapi juga hub pengembangan hubungan Selatan-Selatan sekaligus lintas kontinental.
Para pengamat menilai bahwa inisiatif ini memiliki dua arah: memperkuat fondasi ekonomi nasional dan juga mengangkat peran Indonesia dan Brasil di panggung global. Dalam lanskap geopolitik yang semakin dinamis, kemitraan semacam ini bisa menjadi contoh bagi negara berkembang lainnya.
Sektor teknologi pun turut masuk dalam daftar kerja sama. Di tengah pasang surut globalisasi dan persaingan teknologi, penguatan aliansi seperti ini dinilai strategis untuk mempercepat transformasi industri dan memanfaatkan keunggulan masing-masing negara.
Meski demikian, sejumlah tantangan juga muncul. Perbedaan regulasi, jarak geografis yang jauh, serta logistik menjadi hambatan yang harus diantisipasi agar kerja sama ini bisa berjalan mulus dan menghasilkan manfaat nyata bagi kedua rakyat.
Dengan dasar yang semakin kuat, Indonesia dan Brasil diharapkan bukan hanya menandatangani kesepakatan di atas kertas tetapi juga segera mengeksekusi proyek-proyek nyata—mulai dari pengembangan energi, hilirisasi pertanian, hingga peningkatan ekspor. Momentum KTT ASEAN ini bisa menjadi pintu masuk bagi babak baru kemitraan global.(*)
