Jakarta, Semangatnews.com – Fenomena “fatherless” atau ketiadaan figur ayah dalam pengasuhan anak semakin mendapat sorotan di Indonesia. Data menunjukkan jutaan anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah secara fisik maupun emosional dalam kehidupannya sehari-hari. Kondisi ini menimbulkan dampak jangka panjang yang serius terhadap perkembangan mereka.
Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rahmat Hidayat, menegaskan bahwa absennya figur ayah tidak selalu karena kematian. Banyak kasus di mana ayah secara fisik hadir di rumah, tetapi secara emosional tidak terlibat dalam kehidupan anak. Ini bisa terjadi karena faktor pekerjaan, beban ekonomi, atau pola asuh yang masih menganggap peran ayah sebatas pencari nafkah.
Dampak dari kondisi fatherless sangat kompleks. Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah rentan mengalami krisis identitas, rendahnya rasa percaya diri, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Dalam jangka panjang, mereka berisiko mengalami gangguan emosi dan kesulitan dalam mengambil keputusan.
Menurut Dr. Rahmat, proses belajar anak berlangsung melalui tiga jalur utama, yakni observasional, perilaku, dan kognitif. Tanpa figur ayah yang menjadi panutan dalam ketiga aspek tersebut, proses pembentukan karakter anak menjadi tidak optimal.
Dalam penelitian dan diskusi psikologi keluarga, terdapat tiga langkah utama untuk memutus rantai fatherless. Pertama, memberikan pendidikan kepada anak laki-laki agar mereka tumbuh dengan kesiapan menjadi ayah yang hadir secara emosional di masa depan.
Langkah kedua adalah mendorong gerakan keayahan, yaitu menumbuhkan kesadaran bagi para ayah untuk terlibat aktif dalam pengasuhan. Ayah harus hadir tidak hanya sebagai penyedia kebutuhan ekonomi, tetapi juga menjadi teman dan pendamping bagi anak.
Ketiga, memperkuat keterlibatan ayah secara langsung dalam kehidupan anak. Hal-hal sederhana seperti bermain bersama, mengantar sekolah, atau berbincang sebelum tidur dapat mempererat hubungan emosional antara ayah dan anak.
Psikolog juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi emosional, terutama bagi keluarga yang ayahnya harus bekerja jauh dari rumah. Kehadiran secara fisik bisa digantikan dengan komunikasi yang hangat dan rutin melalui pesan, panggilan video, atau kunjungan berkala.
Selain itu, dukungan dari ibu dan figur alternatif seperti kakek, paman, atau tokoh masyarakat juga sangat dibutuhkan. Mereka dapat membantu memberikan contoh perilaku positif dan nilai-nilai moral yang membentuk karakter anak.
Memutus rantai fatherless bukan hanya tanggung jawab keluarga, melainkan juga membutuhkan dukungan dari sekolah, komunitas, dan kebijakan publik. Kesadaran kolektif tentang pentingnya figur ayah dalam tumbuh kembang anak harus terus digalakkan.
Dengan langkah-langkah konkret dan komitmen bersama, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh dengan kehadiran ayah yang aktif, penuh kasih, dan menjadi panutan yang kuat dalam kehidupan mereka.(*)
