Kritik Hasan Nasbi Soal Gaya Komunikasi Purbaya: Dinilai Terlalu Frontal dan Berisiko Politik

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Pengamat komunikasi politik Hasan Nasbi menyoroti gaya komunikasi Menteri Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa yang dianggap terlalu terbuka dan keras dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Menurutnya, gaya komunikasi yang frontal itu bisa berdampak pada soliditas pemerintahan, terutama di tengah situasi politik dan ekonomi yang sensitif.

Hasan mengatakan bahwa dalam konteks pemerintahan, perbedaan pandangan adalah hal wajar, tetapi seharusnya disampaikan di forum internal, bukan di depan publik. Ia menilai bahwa perdebatan atau sindiran antarpejabat di ruang terbuka justru bisa melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Kalau pejabat saling mengkritik di depan publik, kesannya jadi tidak solid. Padahal, publik ingin melihat pemerintah bekerja sebagai satu kesatuan,” ujar Hasan.

Ia juga mencontohkan beberapa pernyataan Purbaya yang sebelumnya menuai polemik karena dinilai menyinggung pihak lain. Menurut Hasan, gaya bicara yang blak-blakan mungkin efektif untuk menarik perhatian, namun berisiko menimbulkan kesalahpahaman politik.

Menanggapi hal itu, Purbaya justru memberikan respons tegas. Ia menyebut bahwa gaya komunikasinya memang sengaja dibuat lugas agar masyarakat tahu kondisi sebenarnya. Baginya, keterbukaan adalah bagian dari reformasi birokrasi yang lebih jujur dan efisien.

“Saya tidak bermain kata-kata. Kalau saya bicara keras, itu karena ingin mempercepat perubahan. Kadang memang harus ada yang berani,” kata Purbaya.

Ia juga menambahkan bahwa gaya komunikasinya tidak muncul secara spontan, melainkan merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan pejabatnya bekerja cepat dan berani mengambil keputusan penting.

Menurut Purbaya, tugas utamanya bukan mencari simpati, tetapi memastikan kebijakan ekonomi berjalan efektif dan berdampak langsung pada masyarakat. Ia mengaku tidak terlalu memikirkan kritik dari pihak yang merasa terganggu dengan cara bicaranya.

“Kalau ada yang tidak suka, saya tidak peduli. Yang penting hasilnya dirasakan rakyat,” ucapnya.

Meski begitu, sejumlah pengamat menilai bahwa komunikasi publik pemerintah memang perlu keseimbangan antara ketegasan dan diplomasi. Mereka menilai gaya “koboi” Purbaya bisa menjadi ciri khas baru dalam kepemimpinan, asalkan tetap menjaga harmoni di dalam kabinet.

Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana gaya komunikasi Purbaya akan memengaruhi hubungan antarpejabat dan keberlanjutan kebijakan ekonomi nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.