Jakarta, Semangatnews.com – Kemacetan luar biasa melanda sejumlah ruas utama di Kota Semarang setelah hujan deras memicu banjir di beberapa titik kritis kota ini. Jalan Arteri Soekarno Hatta, Jalan Majapahit, dan kawasan Gayamsari menjadi lokasi yang paling terdampak akibat genangan yang memaksa banyak kendaraan berhenti total.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto, menjelaskan bahwa kemacetan di Jalan Soekarno Hatta terjadi karena genangan air di kawasan Gajah dan Medoho memaksa banyak kendaraan dari berbagai arah menumpuk ke arteri utama. Panjang antrean mencapai sekitar lima hingga enam kilometer pada serangkaian momen sore hari.
Salah satu pengendara, Umi (28), mengaku terjebak di belakang antrean selama setengah jam di Jalan RA Kartini menuju Gayamsari. Ia mengatakan bahwa kondisi macet sudah berlangsung sejak sore dan sangat mempengaruhi aktivitasnya.
Pengendara lain, Ana (33) dari Pedurungan, bercerita bahwa ia baru bisa keluar dari kemacetan di Medoho sekitar pukul 18.00 WIB setelah mulai dari pukul 13.30 WIB. Menurutnya, kondisi lalu lintas benar‑benar tak bisa bergerak sehingga banyak pengendara memilih mematikan mesin.
Salah satu faktor utama adalah banjir yang menggenangi jalur Pantura, khususnya di Jalan Kaligawe yang menghubungkan Semarang dan Demak. Genangan ini memicu beban tambahan pada jalur alternatif dan memperparah kemacetan di dalam kota.
Bagi sopir truk dan kendaraan berat lainnya, kondisi ini bukan sekadar macet biasa. Beberapa memilih mematikan mesin sambil menunggu genangan surut atau mencari jalur lain karena kondisi jalan yang tergenang air membuat kendaraan mereka rentan mogok.
Warga yang biasanya menggunakan jalur tersebut untuk bekerja atau pulang ke rumah merasa sangat terganggu. Beberapa memilih berhenti sementara di minimarket atau lokasi aman karena tidak bisa melanjutkan perjalanan akibat macet dan banjir. Bahkan perjalanan yang biasanya singkat bisa berubah menjadi berjam‑jam.
Pemerintah kota melalui BPBD dan pihak terkait telah memberikan himbauan agar pengendara mengecek rute alternatif dan menunda perjalanan ke jalur yang terdampak genangan. Namun kondisi cuaca dan drainase yang belum optimal membuat situasi menjadi rumit.
Situasi ini juga membuka refleksi tentang sistem drainase dan kesiapan kota menghadapi hujan deras. Genangan yang berdampak pada jalan utama menandakan bahwa infrastruktur harus diperkuat agar tidak terus‑menerus mengganggu mobilitas warga.
Secara sosial, kemacetan panjang ini menimbulkan kerugian tidak hanya pada waktu warga tetapi juga biaya tambahan untuk bahan bakar dan potensi kerusakan kendaraan. Kondisi demikian menjadi beban tambahan bagi pengguna jalan terutama yang harus bekerja atau mengantar keluarga.
Dengan musim hujan yang masih berlangsung dan kondisi geografis Semarang yang rendah sebagian, warga dan instansi terkait diharapkan tetap waspada. Kemacetan memang bukan hanya soal volume kendaraan, tetapi ketika disertai genangan air, maka ritme mobilitas kota bisa terganggu secara sistemik.(*)
