Jakarta, Semangatnews.com – Presenter dan aktor Ananda Omesh mengungkap bahwa dirinya selalu menyiapkan surat wasiat sebelum menjalani ibadah haji atau bepergian jauh. Hal tersebut ia lakukan sebagai bentuk persiapan matang bagi keluarganya.
Dalam sebuah program talk‑show, Omesh menceritakan bahwa saat ibunya dahulu menunaikan haji, ia banyak melihat kondisi yang ekstrem—cuaca panas, keramaian, hingga risiko fisik yang tinggi—sehingga muncul kesadaran bahwa ia pun harus menjaga keluarganya dari kemungkinan terburuk.
“Kalau dibilang ketakutan sih lebih ke persiapan, karena banyak kisah tahun sebelumnya,” ujar Omesh, menuturkan refleksinya ketika menulis surat wasiat secara diam‑diam.
Ia menyebut bahwa surat wasiat itu berisi detil mengenai pin dan password rekening, tabungan pendidikan anak‑anak, kendaraan, serta arahan untuk keluarga jika sesuatu terjadi padanya.
Omesh menjelaskan bahwa ia menitipkan dokumen tersebut kepada orang yang sangat ia percaya agar keluarga tetap terlindungi, terutama anak‑anaknya yang masih belajar dan membutuhkan arah bila salah satu orang tua tak hadir.
“Surat tetap saya titipkan … mengingatkan lagi wasiat sebelum saya bepergian jauh,” ungkapnya sambil menyebut bahwa rutinitas tersebut kini menjadi bagian dari persiapan perjalanan jauh atau ibadahnya.
Meski sudah membuat persiapan sedemikian rupa, Omesh menegaskan bahwa ia tetap yakin bahwa Allah SWT lah penjaga terbaik bagi dirinya dan keluarganya. Ia menyadari bahwa manusia bisa merencanakan, namun keadaan di luar kendali tetap mungkin terjadi.
Di sisi keluarga, istri Omesh, Dian Ayu Lestari, baru mengetahui persiapan tersebut setelah Omesh pulang dari haji—yang menunjukkan betapa ia menjaga ketenangan keluarga agar persiapan tak menimbulkan kecemasan.
Respons dari publik pun cukup hangat; banyak netizen yang memuji sikap Omesh sebagai figur publik yang tidak hanya fokus karier, tetapi juga memikirkan tanggung jawab keluarga jauh di luar sorotan kamera.
Dengan pengakuan ini, Omesh memberikan contoh bahwa persiapan tak hanya soal fisik atau spiritual ketika berjalan jauh atau naik haji, tetapi juga soal tanggung jawab yang didedikasikan kepada orang yang kita tinggalkan.(*)
