Badai Melissa Hancurkan Jamaika, AS Dicengkeram Shutdown Saat Krisis Tiba

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Ketika Hurricane Melissa melanda Jamaika sebagai badai kategori 5 dengan kecepatan angin hingga 185 mph (295 km/h), kerusakan besar langsung menghantam pulau Karibia itu: atap rumah terbang, banjir meluap, dan lebih dari setengah juta warga kehilangan listrik.

Gubernur wilayah yang terdampak di St. Elizabeth mengatakan seluruh wilayah seakan tenggelam saat air meluap dan struktur bangunan ambruk satu persatu. “Kami belum pernah melihat sesuatu seperti ini,” ujarnya sambil menunjukkan foto jalanan yang berubah jadi sungai.

Namun di saat krisis besar terjadi di luar negeri, Amerika Serikat menghadapi situasi rumit dalam negeri. Dampak dari 2025 United States federal government shutdown juga terlihat di tengah respons terhadap Melissa — tim “hunter” badai dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) terpaksa terbang tanpa gaji karena pegawai federal dianggap “esensial” namun belum digaji.

Meski demikian, pejabat AS menyatakan bahwa pengiriman bantuan ke kawasan yang terdampak tetap berjalan—tim tanggap darurat dan pasukan relawan dikerahkan ke Jamaika, Haiti dan Kuba untuk mendistribusikan paket darurat.

Korea Jamaika kini menyusun daftar prioritas: air bersih, makanan, atap darurat, dan jalur transportasi yang aman. Transportasi logistik berat terhambat karena jalan‑jalan tertutup, dan bantuan belum bisa masuk secara optimal ke komunitas terpencil.

Seorang warga di kota Black River mengungkap bahwa sekitar 90 % rumah di wilayahnya kehilangan atap dan banyak masyarakat kini tinggal di darurat tanpa listrik dan air.

Sementara itu di AS, shutdown pemerintah membuat program bantuan energi untuk rumah berpenghasilan rendah tertunda. Dengan musim dingin yang mendekat, risiko bagi keluarga miskin makin nyata—situasi yang makin diperparah oleh bencana eksternal seperti Melissa.

Ahli iklim menilai bahwa badai seperti Melissa dipicu oleh pemanasan lautan di Karibia—semakin hangat air laut, semakin cepat badai memuncak. Jamaika yang sebelumnya tidak siap menghadapi badai sebesar ini kini menjadi laboratorium perubahan iklim hidup.

Koordinasi internasional dihadapkan pada dilema: bagaimana menyalurkan bantuan dengan cepat apabila sistem‑logistik dan politik dalam negeri negara donatur terhambat. Ketika AS menghadapi hambatan domestik, dampak global semakin terasa.

Bagi Jamaika dan kawasan Karibia yang sudah renta terhadap cuaca ekstrem, Melissa bisa menjadi titik balik dalam memahami bahwa risiko bukan lagi pilihan—melainkan kenyataan yang harus diantisipasi. Pemulihan kemungkinan akan memakan waktu bertahun‑tahun dan membutuhkan dukungan luar biasa.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.