Jakarta, Semangatnews.com – Peperangan di Sudan yang telah berlangsung sejak April 2023 kini memasuki fase baru yang lebih berbahaya, di mana keterlibatan sejumlah negara Arab dan aktor regional makin memperumit konflik dan memperpanjang penderitaan warga sipil.
Awalnya konflik ini muncul dari tarik‑ulur kekuasaan antara Sudanese Armed Forces (SAF) pimpinan Jenderal Abdel Fattah al‑Burhan dan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang dipimpin Jenderal Mohammed Hamdan Dagalo alias Hemedti. Namun kini perang telah menjadi arena pengaruh eksternal.
Negara‑negara seperti United Arab Emirates, Mesir, dan Arab Saudi disebut aktif memberikan dukungan kepada satu pihak atau lainnya—baik dalam bentuk logistik, senjata, maupun dukungan diplomatik.
UEA misalnya dituduh mendukung RSF dengan pengiriman senjata dan logistik melalui negara tetangga seperti Chad dan Libya, meski secara resmi negara tersebut membantah keterlibatan langsung.
Sementara itu, Mesir dan Arab Saudi dikabarkan memiliki hubungan dekat dengan SAF dan berupaya menjaga stabilitas yang menurut mereka terancam jika RSF berhasil merebut kendali penuh negara. Dukungan mereka turut mempengaruhi dinamika di lapangan.
Dampak dari konflik yang melebar dengan campur tangan luar tersebut sangat besar. Jumlah pengungsi internal dan yang melarikan diri ke negara lain terus meningkat, dan wilayah seperti Darfur mengalami serangan hebat yang mengakibatkan krisis kemanusiaan parah.
Selain tragedi kemanusiaan, stabilitas regional juga terganggu. Perbatasan Sudan dengan Chad, Ethiopia, dan negara Afrika lainnya menghadapi gelombang pengungsi, dan ada kekhawatiran konflik bisa memicu instabilitas yang lebih luas di kawasan.
Upaya diplomasi internasional seperti dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan blok G7 telah dilakukan, namun keterlibatan negara Arab yang memiliki kepentingan sendiri membuat penyelesaian menjadi lebih rumit dan waktu semakin terbentang panjang.
Analisis menunjukkan bahwa konflik ini bukan lagi sekadar perang internal, melainkan menjadi medan persaingan kekuatan regional yang menggunakan Sudan sebagai arena geopolitik—termasuk akses sumber daya seperti emas, posisi strategis, dan pengaruh politik.
Bagi masyarakat Sudan, tambahan campur tangan dari luar justru meningkatkan penderitaan: infrastruktur hancur, pendidikan terganggu, pangan sulit, dan ruang bagi perdamaian semakin sempit. Banyak aktivis memeringatkan bahwa masa depan negara ini semakin suram.
Kini langkah selanjutnya sangat penting: apakah negara‑negara Arab dan aktor regional lainnya bisa diarahkan untuk memilih jalur diplomasi dan mengurangi dukungan militer? Jika tidak, korban yang berjatuhan bisa makin banyak dan dampaknya makin meluas ke kancah global.(*)
