Jakarta, Semangatnews.com – Insiden pesawat GA28 milik PT Wise Air di Karawang pada Jumat sore menjadi sorotan karena kemampuan pilot menyelamatkan diri dan kru meski pesawat kehilangan tenaga mesin di udara. Kapten Eko Agus Nugroho menyatakan bahwa mesin tiba‑tiba tak bertenaga saat pesawat berada di ketinggian sekitar 5.500 kaki.
Situasi genting itu membuat pesawat terjun dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, ketinggian pesawat turun dari 5.500 kaki menjadi hanya sekitar 500 kaki. Kondisi ini merupakan tantangan besar karena hampir tidak ada waktu untuk manuver panjang.
Dihadapkan pada situasi darurat, Kapten Eko memutuskan untuk melakukan pendaratan di area persawahan yang luas. Pilihan ini dilakukan dengan pertimbangan menyelamatkan jiwa, baik awak maupun masyarakat di darat, karena area tersebut relatif aman dari pemukiman.
Warga setempat menjadi saksi momen mencekam tersebut. Beberapa warga melaporkan bahwa pesawat terlihat seperti kehilangan kendali — bergoyang dan terbang sangat rendah sebelum akhirnya menghentakkan mendarat di sawah.
Setelah mendarat, seluruh lima awak pesawat langsung dievakuasi dan menjalani pemeriksaan medis. Kabar baiknya, tidak ada luka serius pada mereka, meskipun pendaratan dalam kondisi darurat seperti ini bisa sangat berisiko.
Kapolres Karawang menjelaskan bahwa dugaan penyebab insiden adalah gangguan teknis mesin, tepatnya loss power yang mengakibatkan pesawat kehilangan tenaga mendadak.
Proses evakuasi dan pemeriksaan lingkungan lokasi jatuh segera dilakukan. Garis polisi dipasang di sekitar area persawahan untuk menjaga keamanan karena adanya potensi bahaya dari bahan bakar pesawat yang masih tersisa.
Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, hadir di lokasi untuk memastikan penanganan berlangsung baik dan cepat. Ia menyatakan apresiasi atas tindakan cepat pilot yang berhasil menerbangkan pesawat ke tempat aman meski dalam kondisi kritis.
Sementara itu, tim KNKT dijadwalkan melakukan investigasi menyeluruh. Pesawat yang jatuh akan diperiksa untuk mengetahui kerusakan mesin, serta apakah ada faktor lain yang turut berkontribusi pada insiden ini.
Kapten Eko mengaku bahwa dalam situasi darurat seperti itu, keputusan cepat dan akurasi sangat penting. Pengalaman dan pelatihan menjadi faktor penentu dalam menyelamatkan pesawat dan awak dalam kondisi ekstrem.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penerbangan, bahkan dengan pesawat kecil, membawa risiko teknis yang harus diantisipasi dengan kesiapsiagaan dan profesionalisme. Upaya pemulihan dan evaluasi pun akan menjadi fokus utama agar insiden serupa tidak terulang.(*)
