Kisah Pilu Ratna, Sebelum Banjir Meradang di Padang Panjang
SEMANGATNEWS.COM.- Kisah pilu satu keluarga di kota Padangpanjang sungguh mengharukan sebelum banjir itu datang. Suami istri terlibat dialog panas disuasana udara dingin. Cuaca ektrem hujan lebat di Sumatera Barat telah memisahkan mereka sebagai suami-isteri. Inilah kisahnya yang sudah beredar di medsos. Semoga terimpati.*”
“Ratna, kemasi barang. Sekarang! Bawa anak-anak. Kita harus pergi malam ini juga.”
Suara itu membelah udara ruang tengah kami yang hangat, mengubahnya menjadi dingin dan mencekam. Itu bukan permintaan. Itu perintah mutlak.
Saya terkesiap, nyaris menjatuhkan lipatan baju di tangan. Di hadapan saya, Reki Saputra, laki-laki yang biasanya menjadi telaga ketenangan bagi keluarga kami, kini berdiri dengan napas memburu. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang mengerikan. Sorot matanya gelap, menyimpan horor yang saat itu belum mampu saya terjemahkan.
“Mengungsi? Ke mana, Bang? Kenapa mendadak begini?” tanya saya, suara bergetar tertahan di tenggorokan.
Reki tidak membuang waktu untuk berdebat. Dia merengkuh bahu saya, cengkeramannya kuat, menyalurkan urgensi yang menakutkan sekaligus protektif. Ditatapnya wajah saya dan anak-anak satu per satu, seolah dia sedang merekam setiap inchi rupa kami ke dalam memori abadinya.
“Sungai di belakang rumah… airnya sudah tidak wajar, Ratna. Demi Allah, percaya sama Abang.”
Kalimat itu merontokkan seluruh bantahan saya. Tanpa banyak tanya lagi, saya bergerak seperti orang gila, menyambar apa saja, menuntun empat buah hati kami menembus malam. Namun, saat mesin mobil menderu siap membelah kelam, dia tidak ikut naik. Kakinya terpaku di halaman, kokoh seperti karang.
“Bawa semuanya pergi. Kalian harus selamat. Selamatkan anak-anak,” ucapnya. Suaranya terdengar jauh lebih berat, getaran perpisahan yang terlambat saya sadari.
“Abang tidak ikut?”
“Saya di sini saja. Memantau air. Saya harus pastikan kalian aman dulu baru saya menyusul.”
Itu adalah dusta terindah sekaligus paling menyakitkan yang pernah dia ucapkan. Dia tidak pernah menyusul. Itu adalah tatapan terakhirnya. Punggung tegap itu memilih berdiri menantang maut, menjadi tameng waktu agar kami bisa lolos dari cengkeraman petaka.
Hanya beberapa jam setelah mobil kami menjauh, langit seolah runtuh. Banjir bandang menerjang Padang Panjang dengan keganasan purba, meluluhlantakkan segalanya. Reki, suamiku, dan Maryulis, kakak iparku, dijemput paksa oleh takdir lewat air bah itu.
Kini, di sudut posko pengungsian Kantor Lurah Silaing Bawah, saya, Ratna Wati, hanyalah seonggok raga yang separuh jiwanya telah diamputasi. Akses jalan Padang dan Bukittinggi yang putus total menjadi saksi bisu betapa saya bahkan tak bisa segera memeluk jasadnya yang dingin di RS Bhayangkara. Saya hanya bisa meraung dalam diam, menelan kenyataan bahwa canda tawa kami kemarin sore adalah penutup tirai kisah kami di dunia.
Tanah makam baru saja basah selepas Zuhur tadi. Hati saya remuk redam, hancur lebur tak bersisa. Namun, ketika empat pasang mata polos menatap saya—empat amanah Tuhan yang kini yatim—saya tahu saya dilarang mati. Saya dilarang menyerah. Saya harus berdiri tegak, menjadi ibu sekaligus ayah, menyambung napas kehidupan di atas puing-puing kehancuran ini.
Reki, cintaku, pahlawanku. Tugasmu telah purna. Pesan terakhirmu sudah terlaksana dengan sempurna; anak-anak kita selamat. Tidurlah. Biar kutanggung rindu dan perih ini, sampai nanti kita bertemu lagi di keabadian.**
