Jakarta, Semangatnews.com – Utusan Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, dijadwalkan akan mengunjungi Yordania dan Israel pada awal Desember 2025 sebagai bagian dari upaya mendukung rencana perdamaian di Gaza yang diinisiasi Washington.
Kunjungan tersebut digadang sebagai langkah nyata dari komitmen AS untuk membawa stabilitas ke kawasan dan memajukan implementasi agenda perdamaian — yakni rencana 20 poin yang diusung oleh pemerintahan sebelumnya.
Selama di Yordania, Waltz direncanakan bertemu dengan pejabat senior, termasuk sang Raja, serta Menteri Luar Negeri, untuk membahas peran krusial Amman dalam fasilitasi bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Pertemuan juga mencakup diskusi dengan organisasi kemanusiaan untuk menilai kebutuhan mendesak korban konflik — mulai dari logistik bantuan, pengungsi, hingga akses terhadap kebutuhan dasar.
Waltz kemudian akan melanjutkan kunjungan ke Israel, bertemu dengan pejabat tinggi serta pemimpin pemerintahan. Tujuan utama adalah memajukan kerja sama AS–Israel di PBB dan membahas implementasi resolusi internasional terkait Gaza.
Kunjungan ini juga akan mencakup peninjauan langsung ke titik kunci seperti pos perbatasan dan mekanisme koordinasi bantuan kemanusiaan — sebagai bagian dari evaluasi komitmen internasional terhadap perlindungan warga sipil dan stabilitas wilayah.
Rencana perdamaian yang menjadi topik pusat pembicaraan di sana telah menuai beragam reaksi. Salah satu yang paling menonjol adalah mengenai pembentukan badan internasional, pasukan stabilisasi, serta mekanisme administratif baru di Gaza — seluruhnya dituangkan dalam rencana 20 poin.
Namun, meski upaya diplomasi dan perencanaan telah dilancarkan, skeptisme tetap tinggi di kalangan warga Gaza dan beberapa negara Arab. Banyak yang mempertanyakan apakah rencana itu benar‑benar akan membawa perdamaian atau hanya menjadi alat politik.
Situasi ini memperlihatkan kompleksitas konflik Gaza: perdamaian tidak hanya soal gencatan senjata, tetapi juga tentang jaminan kemanusiaan, keadilan, dan masa depan warga — aspek yang tidak bisa dilewatkan dalam setiap perundingan.
Dengan kunjungan Waltz, AS berharap bisa mengonsolidasikan dukungan regional dan internasional untuk mewujudkan stabilitas dan rekonstruksi Gaza. Semua mata kini tertuju pada hasil pertemuan di Yordania dan Israel — apakah bisa membuka jalan bagi perdamaian atau justru menimbulkan ketegangan baru.
Bagi banyak pihak, langkah diplomasi ini merupakan kesempatan sekali untuk memberikan harapan kepada warga Gaza yang sudah lama hidup di tengah konflik, agar perdamaian bukan sekadar wacana, melainkan realita.
Kini, publik dunia — serta komunitas internasional — menunggu bagaimana implementasi rencana ini akan berjalan, dan apakah janji‑janji akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.(*)
