Jakarta, Semangatnews.com – Wawancara mengejutkan dari Mohamed Salah menyulut gejolak dalam tubuh Liverpool, namun menurut pengakuan pemain, suasana di ruang ganti tim saat ini relatif tetap tenang.
Komentar pedas yang dilontarkan Salah terjadi usai ia dibangkucadangkan dalam tiga pertandingan berturut‑turut. Ia menyatakan rasa frustrasinya lantaran merasa kontribusinya selama ini diabaikan, dan sempat menyiratkan bahwa hubungannya dengan pelatih Arne Slot sudah retak.
Meski demikian, menurut sang kiper senior — Alisson Becker — rekan‑rekan setim tidak menunjukkan kecanggungan yang berarti. Alisson menyebut para pemain dewasa dan mampu menangani situasi emosional, serta tetap fokus pada persiapan pertandingan selanjutnya.
“Setelah wawancara itu, saya pikir ya akan sangat aneh nuansanya, tapi ternyata tidak,” kata Alisson dalam konferensi pers pra‑laganya. “Kami adalah pria dewasa. Ini soal situasi personal dan kami menerimanya.”
Meski beberapa pihak menilai pernyataan Salah telah merusak otoritas pelatih dan memecah solidaritas tim, tidak semua orang sependapat. Alisson menyatakan bahwa dia pribadi tidak merasa disakiti atau kehilangan respek terhadap Salah.
Alisson juga menjelaskan bahwa suasana tim lebih dikedepankan: “Sebagai tim, tidak penting bagaimana perasaan kita secara pribadi, tapi penting bagaimana kita bereaksi sekarang.”
Mengenai komunikasi antara pelatih dan pemain, menurut laporan, tidak banyak percakapan dilakukan antara Arne Slot dan Salah setelah kejadian. Komunikasi terakhir kabarnya hanya sebatas pemberitahuan bahwa Salah tak akan dibawa ke laga berikutnya di Liga Champions melawan Inter Milan.
Pengecualian tersebut menegaskan bahwa sikap klub relatif tegas. Namun demikian, beberapa pemain senior tampak berusaha menahan arus kejut dan menegaskan pentingnya menjaga profesionalisme di lapangan.
Sumber dari internal skuat sempat menyebut bahwa banyak pemain sudah “menyangka” betapa emosionalnya reaksi Salah sejak informasi bangku cadangan tiga laga disampaikan. Sehingga ketika komentar itu muncul, sebagian tidak terlalu terkejut — reputasi dan status senioritas Salah di tim tetap memberi ruang toleransi.
Meskipun demikian, atmosfer di luar lapangan — di kalangan media dan mantan pemain — terus menyorot. Beberapa pihak mengkritik Salah karena dianggap melanggar etika tim dengan menyampaikan keresahan ke publik, dibanding menyelesaikannya secara internal.
Kini publik dan suporter menunggu bagaimana respons tim dalam beberapa laga ke depan — apakah persatuan tetap terjaga atau konflik internal bakal berdampak ke performa di lapangan.
Bagi Liverpool, momentum ini bisa menjadi ujian karakter tim: apakah mereka tetap bersatu menghadapi badai kontroversi, atau justru retak di tengah tekanan.(*)
