Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali mencuat akibat sengketa wilayah yang melibatkan sejumlah kuil kuno di perbatasan kedua negara. Konflik ini bukanlah persoalan baru, melainkan warisan sejarah panjang yang hingga kini belum sepenuhnya menemukan titik temu.
Akar konflik bermula dari penetapan batas wilayah pada masa kolonial Prancis di awal abad ke-20. Peta perbatasan yang dibuat saat itu meninggalkan sejumlah wilayah abu-abu, termasuk lokasi kuil-kuil kuno yang kini menjadi objek sengketa.
Salah satu kuil paling terkenal dalam konflik ini adalah Kuil Preah Vihear, sebuah bangunan bersejarah berusia lebih dari 900 tahun yang berdiri di kawasan perbatasan. Baik Thailand maupun Kamboja sama-sama mengklaim hak atas wilayah di sekitar kuil tersebut.
Pada 1962, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Kuil Preah Vihear berada di wilayah Kamboja. Namun, keputusan itu tidak sepenuhnya meredakan ketegangan karena masih menyisakan sengketa atas lahan di sekeliling kuil.
Seiring waktu, konflik tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga sempat memicu bentrokan bersenjata. Insiden tembak-menembak antara pasukan kedua negara pernah terjadi dan menelan korban, memperlihatkan betapa sensitifnya isu ini.
Bagi kedua negara, kuil-kuil tersebut bukan sekadar bangunan bersejarah. Kuil dianggap sebagai simbol identitas nasional, kebanggaan budaya, dan legitimasi sejarah yang bernilai tinggi secara politik.
Faktor ekonomi turut memperkeruh situasi. Kawasan kuil berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan yang mendatangkan pemasukan besar, sehingga kepemilikan wilayah dianggap strategis bagi kedua pihak.
Isu ini juga kerap dimanfaatkan dalam politik domestik. Di Thailand dan Kamboja, sengketa kuil sering digunakan untuk membangkitkan nasionalisme dan meraih dukungan publik, terutama di tengah tekanan politik internal.
Upaya diplomasi sebenarnya terus dilakukan melalui dialog bilateral dan forum regional ASEAN. Namun, perbedaan tafsir sejarah dan peta perbatasan membuat proses penyelesaian berjalan lambat.
Masyarakat di wilayah perbatasan menjadi pihak yang paling terdampak. Ketegangan berkepanjangan mengganggu aktivitas ekonomi, pariwisata, serta rasa aman warga yang hidup berdampingan lintas negara.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa penyelesaian damai hanya dapat dicapai melalui kompromi jangka panjang. Kedua negara perlu menempatkan kepentingan stabilitas regional di atas sentimen nasional sempit.
Sengketa kuil antara Thailand dan Kamboja menunjukkan bagaimana sejarah, identitas, dan politik dapat berkelindan menjadi konflik berkepanjangan. Selama akar persoalan belum diselesaikan secara tuntas, ketegangan serupa berpotensi kembali muncul di masa depan.(*)
