Jakarta, Semangatnews.com – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengapresiasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di sejumlah daerah di Indonesia. Program ini dinilai menjadi salah satu intervensi strategis dalam upaya meningkatkan mutu gizi masyarakat, khususnya pada fase awal kehidupan yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak.
Netty menjelaskan bahwa keberadaan MBG menjadi sangat krusial karena menyasar kelompok rentan yang membutuhkan asupan gizi seimbang, terutama pada fase 1.000 hari pertama kehidupan. Pada periode tersebut, pemenuhan gizi yang tepat akan menjadi landasan kesehatan dan perkembangan anak di masa depan.
Menurutnya, pelibatan posyandu, kader kesehatan, dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam distribusi MBG merupakan pendekatan yang sangat efektif. Pihak‑pihak ini memiliki basis yang kuat di tingkat desa dan komunitas sehingga lebih dekat dengan masyarakat sasaran, membantu memastikan bantuan benar‑benar sampai ke tangan yang tepat.
Netty juga memberikan apresiasi terhadap mekanisme pengantaran langsung makanan bergizi ke rumah bagi ibu hamil dan menyusui yang memiliki keterbatasan mobilitas. Kebijakan ini membantu menjangkau kelompok yang selama ini sulit mengakses layanan kesehatan dan sosial secara langsung.
Lebih jauh, DPR menilai program MBG bukan sekadar pemberian makanan gratis, tetapi juga merupakan bagian dari upaya edukasi gizi yang dapat membentuk pola hidup sehat di masyarakat. Edukasi ini dianggap penting untuk mendorong pemahaman ibu tentang pentingnya asupan nutrisi dalam masa kehamilan dan menyusui.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga menegaskan bahwa program ini berkaitan erat dengan pencegahan stunting, di mana gizi ibu dan anak sejak dalam kandungan hingga balita menjadi penentu utama. Pemerintah berharap MBG dapat mengubah pola hidup masyarakat menuju kebiasaan makan lebih sehat.
Jumlah ibu hamil di Indonesia mencapai sekitar 1,07 juta dan ibu menyusui sebanyak 3,7 juta orang, yang menunjukkan skala besar kebutuhan intervensi gizi untuk kelompok ini. Pemerintah bersama DPR menilai bahwa penyaluran makanan bergizi harus diiringi dengan pendekatan yang tepat agar target gizi dapat tercapai.
Selain itu, DPR menekankan pentingnya penyusunan menu MBG yang sesuai kebutuhan gizi ibu dan balita, sehingga program tersebut tidak hanya memenuhi kuantitas tetapi juga kualitas nutrisi. Hal ini sekaligus menghindarkan pemberian makanan yang kurang bermanfaat atau tidak sesuai standar kesehatan.
Dalam menanggapi pelaksanaan di lapangan, DPR juga mendorong adanya evaluasi berkelanjutan dan pengawasan ketat agar program MBG dapat berjalan efektif dan tepat sasaran. Hal ini penting untuk memastikan tujuan program, seperti penurunan angka stunting, dapat terwujud secara nyata.
Program MBG sendiri telah mulai dilaksanakan di berbagai daerah, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan cakupan dan distribusinya berjalan lancar. Kegiatan sosialisasi juga terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi sejak dini.
Respon terhadap pelaksanaan MBG pun beragam di masyarakat dan legislatif, termasuk apresiasi terhadap ide penggunaan bahan baku lokal dan pendekatan berbasis UMKM sekaligus meningkatkan ekonomi lokal dalam rantai pasok program.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, DPR berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi langkah penting dalam membangun generasi masa depan yang sehat, berkualitas, serta produktif, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia.(*)
