Semangatnews.com – Padang, Baralek merupakan proses adat dengan diawali dari proses internal perkenalan keluarga, dalam istilah adatnya marisiak, lalu mendatangi ninik mamak kaum sebagai proses lanjutan sebagai pemberitahuan sekaligus minta izin atas keinginan anak kemenakan untuk berumah tangga.
Hal ini disampaikan Pamong Madya Syuhendri, S.Pd, M.Sn disaat menerima kunjungan Silutarahmi budaya bersama Gen Z, lebih kurang 30 mahasiswa Ugrisba berkunjung, ke Dinas Kebudayaan ( UPTD Taman Budaya ), Senin (12 Januari 2026)
Syuhendri katakan , diskusi budaya membahas rangkaian prosesi baralek Nikah Kawin, sekaligus mempertanyakan hal hal yang selama ini mengenai adat Istiadat. kelihatannya mereka sangat tidak memahami banyak hal mengenai ini, bahkan struktur adat dalam keluarga terendah saja mereka tidak memahami .
” Dengan pencerahan ini diharapkan para mahasiswa sebagai aset sdm pengembangan budaya, mereka akan menjadi tonggak maju atau tidaknya Minangkabau di masa datang. Dalam proses proses berikutnya dijelaskan juga bagaimana proses adat dijalankan sesuai dengan tata cara masing masing nagari (adat salingka nagari). Mulai dari batimbang tando, menyepakati waktu dan kelengkapan adat yang harus dijalankan, manjapuik marapulai, sampai baralek baarak (maanta nasi)”, ungkapnya.

Syuhendri juga katakan, kajian prosesi baralek ini diselingi dengan hal hal aktivitas adat selama proses berlangsung. Menjelaskan peran niniak mamak, sumando, bundo kanduang, bako baki dan sebagainya.
“Diskusi ini diperkaya juga dengan berbagai tata cara adat yang selama ini tidak mereka ketahui. Misal apa itu makan bajamba, dengan segala kelengkapan dan aturan mainnya. Bagaimana tata cara berpakaian menurut adat dan sebagainya,” ujarnya.
Kadis Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaiful Bahri ditempat terpisah juga menyampaikan, kita menyambut baik jika ada generasi muda, gen z dan para mahasiswa mau mendalami adat dan budaya minangkabau secara utuh.
” Dinas kebudayaan Sumbar terbuka untuk hal-hal diskusi seperti demikian, terutama untuk generasi muda. Kita amatlah menyadari bahwa tantangan globalisasi, perkembangan teknologi infomasi, kekuatan media sosial dan sebagainya merupakan tantangan tersendiri dalam melestarikan nilai-nilai budaya sendiri”, ungkapnya.
Syaiful Bahri katakan, untuk tantangan yang semakin banyak itu, gerakkan kebangkitan kebududayaan Sumatera Barat merupakan sesuai keharusan secara bersama-sama, baik seniman, budayawan dan wartawan serta juga seluruh komponen masyarakat.
“Kita berharap saat ini beragam aktifitas kebudayaan Sumbar mesti kita mulai dengan baik, jika kita tidak ingin keringgalan zaman,’ ujarnya.
