Jakarta, Semangatnews.com – Rusia kembali buka suara soal sengketa geopolitik yang melibatkan Greenland setelah Presiden Amerika Serikat mengulang niatnya untuk memperoleh kendali atas pulau terbesar di dunia itu. Kremlin menegaskan bahwa menurut pandangan Moskow, Greenland merupakan bagian sah dari Kerajaan Denmark, sekaligus menolak upaya pihak manapun untuk mengklaim wilayah tersebut.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah konferensi pers di Moskow. Ia menyebut situasi yang berkembang di sekitar Greenland sebagai “sangat kontroversial” dan bahkan “luar biasa dari perspektif hukum internasional”, terutama setelah adanya wacana upaya akuisisi oleh Amerika Serikat.
Peskov menekankan bahwa pernyataan Rusia bukan sekadar retorika, tetapi berdasarkan pemahaman bahwa status hukum Greenland di bawah Kerajaan Denmark diakui oleh sebagian besar komunitas internasional. Pernyataan ini muncul di tengah respons global terhadap klaim Presiden AS Donald Trump yang ingin “mendapatkan” Greenland.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat memerlukan Greenland karena alasan strategis dan sumber daya yang melimpah, bahkan tidak menutup kemungkinan pencapaian tujuan itu melalui kekuatan bila diperlukan. Ide tersebut memicu kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Denmark dan sejumlah negara Eropa yang menegaskan dukungan mereka terhadap kedaulatan Denmark atas wilayah Arktik tersebut.
Denmark dan pemerintah otonom Greenland menolak gagasan penjualan atau peralihan kedaulatan dalam bentuk apapun dan menyatakan tekad bahwa pulau Arktik itu tetap menjadi bagian dari Denmark. Pernyataan ini didukung oleh berbagai negara Eropa yang juga ikut memperkuat kehadiran militer di kawasan melalui latihan dan patroli bersama NATO.
Rusia sendiri menyatakan akan terus memantau situasi di Arktik, menilai bahwa tuduhan tentang peningkatan aktivitas militer Rusia dan China di sekitar Greenland sebagai alasan eskalasi tidak dapat diterima. Moskow menyatakan hal tersebut sebagai bentuk standar ganda kekuatan Barat.
Pernyataan Rusia ini tidak hanya menegaskan posisi mereka tentang kedaulatan wilayah, tetapi juga menyoroti ketegangan yang lebih luas antara kekuatan besar dunia di kawasan Arktik yang kaya sumber daya sekaligus strategis secara militer.
Sebelumnya, beberapa analis bahkan mengaitkan krisis ini dengan pengaruh geopolitik yang lebih luas, termasuk tuduhan standar ganda yang dilakukan oleh kekuatan Barat dalam menilai tantangan keamanan di kawasan tersebut.
Sementara itu, negara-negara Eropa telah mengirim pasukan dan memperluas latihan militer di Greenland untuk mendukung pertahanan wilayah dan mengirim pesan solidaritas kepada Denmark. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan atas Greenland bukan hanya isu bilateral, tetapi juga memengaruhi aliansi keamanan seperti NATO.
Meski begitu, Rusia juga secara paralel memperkuat kemampuan pertahanannya di wilayah Arktik sebagai respons terhadap dinamika keamanan yang berubah, menegaskan bahwa mereka tidak berniat agresif tetapi tetap memperkuat kedaulatan mereka sendiri di kawasan.
Pernyataan Moskow ini menjadi bagian penting dari bagaimana isu Greenland berkembang menjadi titik fokus negosiasi geopolitik besar, khususnya antara Amerika Serikat, Eropa, dan kekuatan global lain yang berkepentingan di Arktik.
Dengan posisi Rusia yang mendukung kedaulatan Denmark atas Greenland di tengah klaim dan tekanan Amerika Serikat, situasi ini diperkirakan akan terus memicu diskusi diplomatik yang intens di forum-forum internasional dalam beberapa pekan ke depan.(*)
