Jakarta, Semangatnews.com – Seorang guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta membagikan sejumlah strategi penting bagi petugas haji dalam menghadapi dan mengurai berbagai persoalan jamaah selama pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Pembekalan ini diberikan sebagai bagian dari persiapan petugas agar mampu bekerja secara profesional di tengah tekanan dan dinamika lapangan.
Guru besar psikologi UIN Jakarta, Prof. Abdul Mujib, menyampaikan bahwa jamaah haji kerap datang kepada petugas dengan kondisi emosional yang tidak stabil. Situasi tersebut dipicu oleh kelelahan fisik, perubahan lingkungan yang ekstrem, serta tekanan psikologis selama menjalankan rangkaian ibadah.
Menurutnya, tidak jarang seorang jamaah menyampaikan banyak keluhan sekaligus dalam satu waktu. Kondisi ini dapat membuat petugas kewalahan apabila tidak memiliki kemampuan menyaring dan menentukan persoalan mana yang harus diprioritaskan untuk diselesaikan lebih dahulu.
Prof. Mujib menekankan bahwa petugas perlu fokus pada akar masalah yang paling dominan. Ia menjelaskan bahwa menyelesaikan semua keluhan secara bersamaan justru akan membuat penanganan menjadi tidak efektif dan berpotensi menimbulkan masalah baru.
Salah satu pendekatan yang disarankan adalah membandingkan setiap keluhan yang disampaikan jamaah. Dengan cara ini, petugas dapat menilai mana masalah yang paling berat dan paling mendesak untuk ditangani terlebih dahulu.
Setelah masalah utama ditemukan, petugas diharapkan langsung memberikan solusi yang tepat. Prof. Mujib menyebutkan bahwa ketika persoalan utama berhasil diatasi, keluhan lain biasanya akan ikut mereda atau tidak lagi menjadi perhatian utama jamaah.
Ia juga mengingatkan bahwa petugas harus memahami batas kewenangannya. Apabila masalah yang dihadapi berkaitan dengan gangguan kejiwaan berat atau kondisi kesehatan serius, petugas sebaiknya segera merujuk jamaah kepada tenaga profesional yang berkompeten.
Kesiapan mental petugas haji, menurut Prof. Mujib, sama pentingnya dengan kesiapan fisik dan administratif. Petugas dituntut untuk tetap tenang, sabar, dan mampu mengendalikan emosi dalam berbagai situasi sulit yang dihadapi di lapangan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya meninggalkan mental dilayani dan menggantinya dengan sikap melayani sepenuh hati. Sikap ini dinilai menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan jamaah terhadap petugas haji.
Perubahan lingkungan dari kehidupan sehari-hari menuju suasana ibadah yang padat dan kolektif di Tanah Suci juga menjadi faktor pemicu stres jamaah. Tanpa pendampingan yang tepat, kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik maupun gangguan psikologis.
Para calon petugas haji yang mengikuti pembekalan menyambut positif materi yang disampaikan. Mereka menilai pendekatan psikologis tersebut sangat relevan dan dibutuhkan dalam menjalankan tugas pelayanan jamaah.
Melalui pembekalan ini, Prof. Mujib berharap para petugas haji mampu memberikan pelayanan yang lebih humanis dan solutif. Dengan pengelolaan masalah yang tepat, jamaah diharapkan dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih tenang, aman, dan khusyuk.(*)
