Ekspedisi Jojo Edisi #3: Rombongan Disuguhi Ketan Durian, Ala… Mak!
SEMANGATNEWS.COM. Perjalanan Jurnalistik Edis 3 yg dikemas komunitas “Jojo” tanggal 24 Januari 2024 adalah menyasar Pariangan, Ustano Pagaruyuang, Tanah Datar dan Kota Wisata Bukittinggi. Perjalanan dengan Amirul Wan Eko Yanche membawa sejumlah Wartawan Senior bersama keluarga yakni Gusfen Khairul , Ismet Fanany,Nofi Sastera, Zulnadi, Atviarni dan Charles Zen. Rombongan juga dimeriahkan keikutsertaan ibuk ibuk seperti Riza Eko, Getri,Nike Gusfen, Hartini Zulnadi, Welly Nofi, Dessy dan Wawa, Yanti Chan. Redaksi.
+++
USAI berselfi ria di desa terindah Pariangan, rombongan melaju ke Desa Sawah Tangah, kampungnya Tek Baya Eko Yanche Edri yang sekaligus Amirul Perjalanan Jojo Edisi 3.
Disini kami disuguhi Katan Durian. Ala maak!.
Untung saja perut kami sudah dialas dengan menyantap lontong Pitalah di Kubu Karambie. Jika tidak, katan- durian ini bisa bermasalah di lambung masing-masing. Terlebih yang punya keluhan asam lambung.
Tak terkecuali buat Charles Zen yang pernah mendapat stroke ringan.
Istrinya Yanti, terlihat ketat mengawasi Chan agar tak berlebihan melahap durian tersebut. Tapi yang namanya selera sulit dihalangi. Si Can ini, pintar juga membujuk istrinya dengan memberi istrinya durian yang baru dibuka, lalu satu dua biji di santap duluan. Untung Chan ini kuat, tak terlihat gerah panas dari menyantap durian yang entah berapa biji, hanya dia yang tahu.

Membuka sambil menyantap adalah sesuatu yang mengasyikan. Adalah ibuk Desy dan Welly istrinya Nofi beraama Atviarni yang bergembira ria membuka durian tersebut. Dengan tawa berderai, satu tumpukan durian nyaris habis untuk rombongan Jojo yang berjumlah 15 orang itu.
Dirumah ini kami dijamu dan di rumah ini pula anak anak Desa Sawah Tangah dididik baca dan hafal Alquran yang di prakarsai Keluarga H.Sainir Dt. Sanggono Dirajo.( baca Semangatnews com . Tak Dipungut Bayaran Rumah Tahfidz Ar- Rayyan Sawah Tangah Semakin Diminati).
Menyantap sepuas puasnya belum juga habis. Entah berapa buah durian disediakan Keluarga Ibuk Riza Eko ini, sehingga ada yang ingin membawa pulang bersama Ketan.
Namun sayang seribu sayang, driver Rino bernama Pak Men ini ketat dengan peraturan perusahaan.
Durian tidak boleh masuk Bus, kecuali dg cover wel yang bisa meredam baunya.
Wah sama juga ketatnya dengan naik pesawat ya, celetuk Welly dan Hartini yang harus mengembalikan durian kepada keluarga buk Riza.
Menurut driver, bau durian lama hilang di dalam bus yang ber AC. Perusahaan selalu mengingatkan kami untuk tidak membenarkan penumpang bawa durian, kata Pak Men.
Tapi menurut ibuk ibuk, untuk menghilangkan baunya kan bisa dengan bubuk kopi. Ya kami sedikit kecewa, sebut Ibuk yang lain.

Selain menyantap durian kami juga diberi oleh oleh Kacang Goreng usaha rumah tangga warga Sawah Tangah.
Selama ini kita mengenal kacang Goreng yang di goreng di kuali. Tapi begitu melihat ke tungkunya, bukan digoreng melainkan di rendang dalam kuali besar yang dibawahnya menyala api. Merandang kacang bercampur pasir maka jadilah kacang goreng. Sebelum proses rendang, kacang dijemur, seperti menjemur padi.
Menurut ibuk Devi yang ditemui saat merendang kacang, di Sawah Tangah ini terdapat lebih kurang 20 keluarga penghasil kacang goreng/randang. Ada yang sudah memakai label, merek tertentu.
Dulu… banyak yang bertanam kacang, sekarang tidak lagi. Bahan baku didatangkan dari daerah tetangga, Agam dan Payakumbuh. Bahkan dari Medan,sebut ibuk Devi yang terus memutar dan membalikan kacang di kuali sambil duduk.
Berapa harga kacang sekilo. Kalau di Sawah Tangah Rp. 18.000 dan di luar sekitar Rp. 20 – 25 ribu.
Begitu terkenalnya daerah ini penghasil kacang goreng, maka dibuatlah lambang berupa tugu Biji Kacang di kampung Sawah Tangah,Nagari Pariangan yang banyak menyimpan legenda.**
