Jakarta, Semangatnews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merasakan tekanan tajam pada perdagangan awal Maret 2026, dengan koreksi tajam yang membuat pasar saham Indonesia dilanda gejolak. Namun di tengah gelombang jual yang merata, investor asing justru tercatat melakukan akumulasi saham tertentu secara diam-diam oleh data perdagangan terbaru.
Perdagangan pasar modal pada salah satu sesi pekan ini memperlihatkan IHSG anjlok di kisaran 7.500 an, mencerminkan tekanan jual besar yang dipicu sentimen global dan regional yang membuat risiko pasar meningkat.
Meski mayoritas saham tekanan jual, laporan menunjukkan bahwa investor asing mencatat pembelian bersih berskala terbatas di beberapa saham unggulan, bahkan di saat IHSG mengalami koreksi di seluruh sektor.
Aktivitas pembelian ini mencuat karena asing tercatat net buy pada saham-saham tertentu, termasuk di antaranya saham dari emiten energi dan sumber daya yang dinilai murah oleh pelaku pasar besar.
Aksi ini menunjukkan strategi “borong saat murah” yang dilakukan investor asing saat terjadi aksi jual luas di pasar, memanfaatkan valuasi yang tertekan untuk akumulasi jangka panjang.
Beberapa saham yang justru menjadi favorit asing termasuk emiten batu bara dan energi, seperti saham PT Bumi Resources Tbk, yang mencatat pembelian bersih terbesar di antara lain oleh pelaku modal asing terkait nilai nilainya yang sedang turun.
Namun di sektor lain—terutama perbankan—asing justru melakukan aksi jual bersih signifikan, termasuk saham-saham seperti PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk, yang mengalami tekanan jual tertinggi.
Pergerakan ini membuat aliran modal asing menjadi lebih dinamis, di mana sisi jual di sektor tertentu diimbangi dengan pembelian strategis di saham lain yang dianggap memiliki prospek pemulihan terbaik.
Analis pasar melihat fenomena ini sebagai tanda bahwa meskipun pasar tengah lesu, masih terdapat keyakinan investor institusional terhadap fundamental sebagian saham Indonesia, terutama di sektor komoditas.
Selain itu, aksi belanja saham tertentu oleh asing juga memberi sinyal bahwa beberapa sektor dipandang undervalued saat ini, sehingga menjadi target akumulasi bagi dana besar.
Pengamat pasar modal mengatakan bahwa strategi seperti ini lazim saat pasar terdalam mengalami tekanan, di mana pelaku modal menilai koreksi tajam justru menciptakan peluang akumulasi.
Kedepannya, penguatan pasar masih tergantung pada arah sentimen global dan stabilitas ekonomi domestik, sehingga aktivitas asing akan terus menjadi perhatian investor ritel maupun institusional.(*)

