Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel tak lama setelah Ayatollah Mojtaba Khamenei diumumkan sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran. Serangan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang sedang berlangsung antara kedua negara.
Rudal-rudal Iran dilaporkan diluncurkan pada Senin (9/3/2026) dan diarahkan ke wilayah Israel. Media pemerintah Iran menyebut serangan ini sebagai gelombang pertama di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei.
Dalam laporan resmi, penyiaran televisi negara Iran menyatakan peluncuran itu dilakukan “di bawah komando Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei”. Beberapa gambar bahkan menunjukkan proyektil dengan tulisan dukungan kepada pemimpin baru tersebut.
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Keputusan itu diambil oleh Majelis Pakar Iran setelah kematian pemimpin sebelumnya dalam serangan udara.
Penunjukan Mojtaba Khamenei dianggap sebagai momen penting dalam sejarah politik Iran karena untuk pertama kalinya kepemimpinan tertinggi berpindah langsung dari ayah ke anak sejak Revolusi Islam 1979.
Ketika rudal diluncurkan, sirene peringatan di Israel dilaporkan berbunyi di sejumlah wilayah, termasuk area yang padat penduduk. Sistem pertahanan udara Israel segera diaktifkan untuk mengantisipasi serangan tersebut.
Serangan ini juga terjadi di tengah perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, setelah sebelumnya Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran.
Pemerintah Iran menyatakan langkah tersebut sebagai bentuk pembalasan dan respons terhadap agresi militer yang mereka tuduhkan kepada Israel dan sekutunya.
Di sisi lain, pemerintah Israel menegaskan bahwa mereka siap menghadapi serangan lanjutan dan akan mempertahankan keamanan wilayahnya.
Konflik yang terus memanas ini memicu kekhawatiran komunitas internasional karena berpotensi memicu perang regional yang lebih luas.
Para pengamat menilai perubahan kepemimpinan di Iran berpotensi membawa dinamika baru dalam konflik Iran–Israel yang sudah berlangsung lama.(*)

