Jakarta, Semangatnews.com – Perubahan pola liburan wisatawan asal China mulai dirasakan oleh pelaku industri pariwisata di Bali. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali mengungkapkan bahwa tren baru turis China setelah pandemi telah mengubah peta bisnis agen perjalanan di Pulau Dewata.
Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, mengatakan wisatawan China kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada paket tur yang disediakan agen perjalanan. Sebaliknya, banyak dari mereka memilih berwisata secara mandiri atau bersama keluarga dalam kelompok kecil.
Sebelum pandemi COVID-19, wisatawan China dikenal sering datang dalam rombongan besar menggunakan paket tur yang diatur oleh agen perjalanan. Selain berwisata, mereka juga dikenal gemar berbelanja di berbagai destinasi yang telah disiapkan dalam itinerary perjalanan.
Namun kondisi tersebut berubah drastis setelah pandemi. Kini banyak turis China lebih memilih perjalanan independen atau dikenal dengan istilah free independent traveler (FIT), sehingga tidak lagi sepenuhnya menggunakan layanan agen travel lokal.
Perubahan perilaku wisatawan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Generasi muda China yang kini mendominasi pasar wisata cenderung memesan perjalanan melalui aplikasi digital dibandingkan melalui agen perjalanan konvensional.
Akibatnya, sebagian besar transaksi perjalanan dilakukan secara online melalui berbagai platform perjalanan global. Hal ini membuat peran agen travel lokal menjadi semakin terbatas dibandingkan sebelumnya.
Dampaknya cukup terasa bagi pelaku usaha pariwisata di Bali, terutama agen perjalanan yang sebelumnya sangat bergantung pada pasar China. Banyak perusahaan travel kini harus beradaptasi dengan perubahan pola wisata tersebut.
Selain perubahan pola perjalanan, jumlah kunjungan wisatawan China ke Bali juga belum sepenuhnya pulih setelah pandemi. Jika sebelumnya jumlah wisatawan China mencapai sekitar 2 juta orang, kini angkanya hanya sekitar 500 ribu kunjungan.
Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 30 persen yang masih menggunakan jasa agen perjalanan lokal. Kondisi ini membuat pendapatan pelaku usaha travel mengalami penurunan dibandingkan sebelum pandemi.
ASITA menilai perubahan tren ini tidak bisa dihindari dan harus disikapi dengan strategi baru. Pelaku industri pariwisata di Bali didorong untuk lebih kreatif dalam menawarkan produk wisata yang menarik bagi wisatawan modern.
Salah satu peluang yang bisa dikembangkan adalah menawarkan pengalaman wisata yang lebih autentik, seperti eksplorasi desa wisata dan aktivitas budaya lokal. Konsep tersebut dinilai lebih sesuai dengan minat wisatawan muda yang ingin merasakan pengalaman baru selama berlibur.
Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan dapat membuat regulasi yang mendorong kerja sama antara platform digital dengan agen perjalanan lokal. Dengan begitu, pelaku usaha pariwisata di Bali tetap bisa mendapatkan manfaat dari perubahan tren wisatawan China yang kini semakin mandiri dalam merencanakan perjalanan mereka.(*)

