Rupiah Tertekan ke Level Rp16.900 per Dolar AS, Sentimen Global Jadi Pemicu

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026. Pergerakan mata uang Garuda tersebut dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global yang membuat dolar AS semakin menguat di pasar internasional.

Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan pagi di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah sekitar 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp16.895 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan tekanan yang masih membayangi mata uang Indonesia.

Selain itu, indeks dolar AS juga tercatat mengalami kenaikan sekitar 0,15 persen ke level 99,37. Penguatan dolar tersebut membuat banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan di pasar valuta asing.

Pada perdagangan siang hari, tekanan terhadap rupiah bahkan sempat meningkat. Mata uang Indonesia tercatat terkoreksi hingga sekitar Rp16.910 per dolar AS seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu faktor utama yang memicu tekanan terhadap rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang memanas di kawasan tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

Lonjakan harga minyak dunia juga menjadi faktor yang membebani rupiah. Harga minyak Brent bahkan sempat melonjak hingga sekitar US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik yang meningkat.

Kenaikan harga energi global biasanya memberikan dampak langsung terhadap negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan pada neraca perdagangan serta nilai tukar mata uang domestik.

Pengamat pasar keuangan menilai rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.950 per dolar AS. Pergerakan tersebut sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan pasar komoditas global.

Di sisi lain, kondisi domestik juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Investor masih mencermati perkembangan kebijakan fiskal pemerintah serta dinamika ekonomi nasional yang dapat mempengaruhi stabilitas nilai tukar.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau pergerakan rupiah secara ketat. Stabilitas nilai tukar dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional.

Para analis juga menilai tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih berlanjut dalam jangka pendek jika ketegangan geopolitik global belum mereda. Faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang negara berkembang.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak global. Dengan kebijakan moneter dan fiskal yang tepat, rupiah diharapkan mampu menjaga stabilitas di tengah dinamika ekonomi dunia yang terus berubah.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.