Indonesia dan Negara Tetangga Mulai Tinggalkan Dolar AS, Era Transaksi Mata Uang Lokal Kian Menguat

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mulai mempercepat langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan dan keuangan. Kebijakan ini menjadi bagian dari tren global yang dikenal dengan istilah dedolarisasi.

Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara. Indonesia bersama sejumlah mitra dagang di kawasan ASEAN kini mulai menggunakan sistem Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi mata uang lokal.

Bank Indonesia mencatat nilai transaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra ASEAN terus meningkat. Sepanjang 2025 saja, nilai transaksi tersebut mencapai sekitar 14,1 miliar dolar AS, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Kerja sama ini tidak hanya melibatkan Indonesia, tetapi juga sejumlah negara lain seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan China. Melalui skema tersebut, perdagangan dapat dilakukan langsung menggunakan mata uang masing-masing tanpa harus melalui dolar AS sebagai perantara.

Penggunaan mata uang lokal dinilai mampu menekan risiko fluktuasi nilai tukar yang sering terjadi ketika transaksi harus dikonversi ke dolar terlebih dahulu. Selain itu, biaya transaksi juga dapat ditekan sehingga perdagangan menjadi lebih efisien.

Upaya ini juga sejalan dengan kebijakan ekonomi kawasan ASEAN yang mendorong integrasi keuangan regional. Dalam sejumlah pertemuan tingkat tinggi, negara-negara ASEAN telah menyepakati peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan.

Selain perdagangan, sistem pembayaran lintas negara juga mulai disiapkan untuk mendukung kebijakan tersebut. Salah satu contohnya adalah pengembangan konektivitas pembayaran digital berbasis kode QR antarnegara ASEAN.

Para analis menilai tren dedolarisasi di Asia dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga volatilitas nilai tukar dolar AS. Negara-negara di kawasan ini ingin memperkuat kedaulatan ekonomi dan mengurangi risiko yang berasal dari sistem keuangan global.

Meski demikian, para ekonom menilai dominasi dolar AS dalam sistem keuangan internasional masih akan bertahan dalam waktu lama. Mata uang tersebut tetap menjadi cadangan devisa utama dan alat pembayaran internasional yang paling banyak digunakan.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa sistem keuangan global perlahan mulai bergerak menuju struktur yang lebih multipolar. Mata uang lokal, yuan China, dan bahkan emas mulai dilirik sebagai alternatif dalam perdagangan internasional.

Bagi Indonesia, kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing perdagangan di kawasan Asia. Selain itu, penggunaan rupiah dalam transaksi internasional juga dinilai dapat meningkatkan peran mata uang nasional di tingkat global.

Dengan semakin banyaknya negara yang ikut dalam skema transaksi mata uang lokal, tren pengurangan penggunaan dolar AS diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Kawasan Asia pun berpotensi menjadi salah satu motor utama perubahan dalam sistem keuangan dunia.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.